Sabtu, 14 Februari 2009

KURANGNYA MUTU PELAYANAN PETUGAS KESEHATAN DALAM MEMBERIKAN PENYULUHAN TENTANG PENYAKIT DIARE PADA BAYI BY HENI PURNAMA

TUGAS

KURANGNYA MUTU PELAYANAN PETUGAS KESEHATAN DALAM MEMBERIKAN PENYULUHAN TENTANG

PENYAKIT DIARE PADA BAYI

OLEH :

HENI PURNAMA

06042557

POLITEKNIK KESEHATAN PADANG

PRODI DIII KEBIDANAN PADANG

TAHUN 2009

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang.................................................................... 1

1.2. Rumusan Masalah............................................................... 2

1.3. Tujuan Penulisan................................................................. 2

1.4. Manfaat Penelitian.............................................................. 3

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Diare

2.1.1. Pengertian Diare........................................................ 4

2.1.2. Penyebab diare........................................................... 4

2.1.3. Jenis-jenis Diare......................................................... 5

2.1.4. Pemeriksaan Bayi Diare............................................. 6

2.1.5. Cara Pencegahan Diare.............................................. 7

2.1.6. Penanggulangan Diare............................................... 7

2.2. Mutu........................................................................................ 8

BAB III. PEMBAHASAN

3.1. Kurangnya Pengetahuan Orang tua...................................... 10

3.2. Pentingnya penyuluhan terhadap orang tua........................... 11

BAB IV PENUTUP

4.1. Kesimpulan.......................................................................... 13

4.2. Saran.................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pada bulan pertama kelahirannya, bayi buang air besar sebanyak kurang lebih enam kali sehari. Namun, ada kalanya bayi BAB melebihi jumlah itu. Mencret pada bayi baru lahir terjadi karana proses adaptasi bayi terhadap makanan (Danuatmaja, 2003)

Menurut survei Kesehatan Rumah Tangga, Departemen Kesehatan RI tahun 1996, 12 % penyebab kematian adalah diare. Disebutkan, akibat diare, dari 1.000 bayi, 70 bayi meninggal dunia sebelum merayakan ulang tahunnya yang pertama. Ditemukan pula bahwa dari tujuh bayi yang dikubur, satu diantaranya meninggal karena diare. Statistik menunjukkan bahwa setiap tahun diare menyerang 50 juta penduduk Indonesia, dan 2/3 nya adalah balita dengan korban meninggal sekitar 600.000 jiwa (Widjaja, 2003).

Menurut data profil 2002 AKB di Sumatera Barat pada usia 0-28 hari adalah 474 jiwa dari 82.926 jumlah lahir hidup dan pada usia 1 bulan - <>

Sampai saat ini penyakit diare / mencret masih merupakan salah satu penyakit terbanyak pada bayi dan anak di Indonesia. Diperkirakan, angka penderita antara 150-430 per 1.000 penduduk setahunnya. Dengan berbagai upaya, angka kematian bayi dan anak akibat diare di Rumah Sakit sekarang dapat ditekan menjadi kurang dari 3 persen.

Penyakit diare masih sering menimbulkan KLB yang cukup banyak menyebabkan kematian. Bayi. Dikatakan diare bila keadaan frekwensi buang air besar lebih dari 4 kali sehari dan lebih dari 3 kali sehari pada anak-anak, konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah atau lender saja (Ngastiyah, 2005).

Setiap bayi yang menderita diare terancam bahaya dehidrasi. Penilaian hidrasi penting dilakukan secara seksama, meliputi berat, ubun, turgor kulit dan pengisian kembali kapiler.

Neonatus memerlukan pendekatan yang berbeda karena kurangnya kapasitas mereka untuk menoleransi kekurangan cairan dan adanya diagnosis banding tambahan pada kelompok usia ini (Schwartz, M. William, 2004).

Kekurangan cairan sangat berbahaya bila terjadi pada bayi, untuk itu ibu perlu melakukan tindakan yang cepat dan tepat dengan membawa bayi dan anak kepetugas kesehatan, dimana tugas seorang petugas kesehatan memberikan solusi dan penanganan kepada anak dengan melakukan mutu pelayanan kesehatan. Mutu itu sendiri adalah : tingkat kepatuhan terhadap standard yang telah ditetapkan (Crosby,1984).

Berdasarkan penjelasan diatas maka penulis memberi judul makalah ini dengan “Kurangnya Mutu pelayanan Petugas Kesehatan dalam memberikan penyuluhan tentang penyakit diare pada bayi ”.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan Latar Belakang diatas maka dapat dirumuskan masalahnya yaitu : “Kurangnya mutu pelayanan tenaga kesehatan dalam memberikan penyuluhan tentang penyakit diare pada bayi

1.3. Tujuan Penulisan

1.3.1. Tujuan Umum

Diketahuinya mutu pelayanan petugas kesehatan dalam memberikan penyuluhan tentang kesehatan kepada masyarakat.

1.3.2. Tujuan khusus

Diketahuinya mutu pelayanan petugas kesehatan dalam memberikan penyuluhan tentang penyakit diare pada bayi.

1.4. Manfaat

Adapun manfaat dari mutu pelayanan kesehatan tersebut adalah : agar petugas kesehatan dapat meningkatkan kualitas dan produktifitas kerjanya dalam memberikan mutu pelayanan kesehatan terhadap masyarakat, serta dapat dijadikan pedoman kesehatan bagi masyarakat dalam membina keluarga yang sehat dan sejahtera.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Diare

2.1.1. Pengertian Diare

Diare adalah keadaan frekwensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak, konsisitensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah atau lendir saja (Ngastiyah, 2003).

Diare merupakan “plesetan” dari bahasa kedokteran: diarrhea. Defenisi diare adalah buang air encer lebih dari empat kali sehari, baik disertai lendir dan darah maupun tidak (Widjaja, 2003).

Jika bayi atau anak tiba-tiba mengalami perubahan dalam buang air besar dari biasanya, baik frekwensi atau jumlah buang air besar yang menjadi sering dan keluar dalam konsistensi cair dari pada padat maka itu adalah diare (www.infoibu.com).

Diare merupakan keadaan dimana seseorang menderita mencret. Penderita buang air besar berkali-kali, 3-5 kali sehari, fesesnya encer dan kadang-kadang mengandung darah atau lender (www.allaboutgizi.wordpress.com)

2.1.2. Penyebab Diare

Diare disebabkan oleh faktor infeksi, malabsorbsi (gangguan penyerapan zat gizi), makanan, dan faktor psikologis.

v Faktor Infeksi

Infeksi pada saluran pencernaan merupakan penyebab utama diare pada anak. Jenis-jenis infeksi pada umumnya menyerang sebagai berikut:

a) Infeksi bakteri oleh kuman E.coli, salmonella, Vibrio cholerae (kolera), dan serangan bakteri lain yang jumlahnya berlebihan dan patogenik (menfaatkan kesempatan ketika kondisi tubuh lemah) seperti pseudomonas.

b) Infeksi basil (disentri) Infeksi virus enterovirus dan adenovirus

c) Infeksi parasit oleh cacing (askaris)

d) Infeksi jamur (candidiasis)

e) Infeksi akibat organ lain, seperti radang tonsil, bronchitis, dan radang tenggorokan.

f) Keracunan makanan.

v Faktor Malabsorbsi

a) Malabsorbsi karbohidrat. Pada bayi, kepekaan terhadap lactoglobulis dalam susu formula menyebabkan diare. Gejalanya berupa diare berat, tinja berbau sangat asam, sakit didaerah perut. Jika sering terkena diare ini, pertumbuhan anak akan terganggu.

b) Malabsorbsi Lemak. Dalam makanan terdapat lemak yang disebut tryglyserida. Tryglyserida, dengan bantuan kelenjar lipase, mengubah lemak menjadi micelles yang siap diabsorbsi usus. Jika tidak ada lipase dan terjadi kerusakan mukosa usus, diare dapat jadi muncul karena lemak tidak terserap dengan baik. Gejalanya adalah tinja mengandung lemak.

v Faktor Makanan

Makan yang mengakibatkan diare adalah makanan yang tercemar, basi, beracun, terlalu banyak lemak, mentah (sayuran), dan kurang matang.

v Faktor Psikologis

Rasa takut, cemas, dan tegang, jika terjadi pada anak, dapat menyebabkan diare kronis.

2.1.3. Jenis-jenis diare

· Diare Akut

Diare akut adalah diare yang dapat terjadi sewaktu-waktu tetapi gejalanya dapat berat. Penyababnya Sbb:

- Gangguan jasa renik / bakteri yang masuk kedalam usus halus setelah melewati berbagai rintangan asam lambung.

- Jasad renik yang berkembang pesat didalam usus halus.

- Racun yang disebabkan oleh bakteri

- Kelebihan cairan usus akibat racun.

· Diare Kronis atau Menahun atau Persisten

Pada diare menahun (kronis), kejadiannya lebih kompleks. Berikut beberapa factor yang menimbulkannya, terutama jika sering berulang pada anak.

- Gangguan Bakteri, jamur, dan parasit

- Malabsorbsi kalori

- Malabsorbsi lemak.

2.1.4. Pemeriksaan bayi diare

Table 2.1

Derajat Dehidrasi Batasan WHO (World Health Organization)

Tanda dan gejala

Dehidrasi D. ringan

D. sedang

D. berat

Keadaan umum

Denyut nadi

Pernafasan

Ubun-ubun

Kelopak mata

Air mata

Selaput lender

Elastisitas kulit

Air seni

Sakit, gelisah,haus

Normal: kurang dari 120/menit

Normal

Normal

Ada

Ada

Lembap

Jika dicubit, segera kembali normal

Normal

Gelisah, ngantuk, rewel

Cepat dan lemah: 120-140/menit

Dalam tapi cepat

Cekung

Cekung

Tidak ada

Kering

Untuk kembali normal lambat

Berkurang, berwarna tua

Ngantuk, lemas, dingin, berkeringat, pucat, dapat pingsan.

Cepat,halus, kadang tak teraba

Dalam, cepat

Sangat cekung

Sangat cekung

Sangat kering

Sangat kering

Untuk kembali normal sangat lambat

Tidak kencing

Sumber: Dehidrasi, Maurice King (dalam : Widjaj, 2003).

2.1.5. Cara pencegahan diare

a) Teruskan pemberian ASI

b) Perhatikan kebersihan dan gizi yang seimbang untuk pemberian makanan pendamping ASI setelah bayi berusia 4 bulan

c) Cuci tangan dengan sabun setelah berak dan sebelum memberi makan anak

d) Menjaga kebersihan perabotan atau alat-alat bermain anak.

2.1.6. Penanggulangan diare

Penanggulangan berdasarkan diare berdasarkan akibat terjadinya :

a) Diare akibat bakteri atau kuman E.coli

Pengobatan terbaik untuk saat ini adalah dengan menggunakan colistin dan neomicyn.

b) Diare akibat kolera

- Memperbaiki dehidrasi dengan cairan elektrolit

- Mengatasi shock (pingsan)

- Membunuh kuman dengan Antibiotik dibawah pengawasan dokter.

c) Diare akibat Infeksi salmonella

Komplikasi berat dapat menyebabkan dehidrasi, jadi

penanganannya sebaiknya dilakukan di rumah sakit.

d) Diare akibat Infeksi basil (Disentri)

Jika terjadi dehidrasi berat disertai muntah-muntah, sebaiknya penderita segara dibawa kedokter atau rumah sakit.

e) Diare akibat virus

Pengobatannya sebaiknya dilakukan berdasarkan gejala yang timbul

f) Diare akibat cacing (Askaris)

Pengobatannya dilakukan di rumah sakit

g) Diare akibat infeksi jamur

Pengobatannya dilakukan di rumah sakit

2.2. Mutu

Mutu mengandung arti relative, kurang memberikan kesan tentang sesuatu hal yang konkret, karenanya pernyataan mutu selalu diiringi oleh kata sifat seperti tinggi, rendah, baik, buruk, dll, Sehingga sering kita mendengar orang berkata “Mobil marcedes itu mutunya lebih baik dari mobil Toyota, mutu input mahasisiwa baru Poltekkes Padang itu baik karena diterima hanya sekitar 10% dari pendaftar”. Dengan demikian mutu selalu dikaitkan dengan pembanding tertentu atau standard yang telah ditetapkan.

Banyak pakar yang mengemukakan pengertian mutu dari sisi pandang yang berbeda namun mempunyai tujuan yang sama, anatara lain;

1. Mutu adalah tingkat kepatuhan terhadap standard yang telah ditetapkan (Crosby,1984)

2. Mutu adalah sifat yang dimiliki oleh sesuatu program (Donabedian, 1980)

3. Mutu adalah tingkat kesempurnaan dan penampilan sesuatu yang sedang diamati (Winston Dictionary, 1956).

Dari bahasan itu diketahui bahwa mutu pelayanan kesehatan termasuk pelayanan kebidanan hanya dapat diketahui apabila sebalumnya telah dilakukan penilaian terhadap kinerja, hasil penilaian itu dibandingkan dengan standard tertentu, karena itu mutu memiliki kaitan yang erat dengan kinerja dan standard. Sehubungan dengan itu untuk memahami mutu banyak hal yang harus ditelaah antara lain konsep PDCA, konsep kinerja, standard, konsep pendekatan sisitem, dan substansi yang dibahas dalam konsep-konsep mutu tersebut, dimana kosep-konsep tersebut saling terkait. Pemahaman terhadap kesalingterkaitan beberapa konsep itu sangat penting.

Mutu pelayanan kesehatan termasuk mutu pelayanan kebidanan adalah pelayanan kesehatan yang dapat memenuhi kebutuhan pasien serta tata cara pelaksanaan sesuai dengan kode etik dan standard profesi yang telah ditetapkan.


BAB III

PEMBAHASAN

3.1. Kurangnya Pengetahuan Orang Tua

Penyebab diare telah dikemukakan lebih dahulu baik karena infeksi enteral maupun parenteral serta faktor lain. Tetapi mengingat ada beberapa faktor risiko yang ikut berperan dalam timbulnya diare yang kebanyakan karena kurangnya pengetahuan orang tua.

Pasien diare yang dirawat biasanya sudah dalam keadaan dehidrasi berat dengan rata-rata kehilangan cairan sebanyak 12,5% pada dehidrasi berat, Volume darah berkurang sehingga dapat terjadi renjatan hipovolemik dengan gejala denyut jantung menjadi cepat, nadi cepat dan kecil, tekanan darah menurun, pasien sangat lemah, kesadaran menurun. Akibat dehidrasi diuresisi berkurang (oliguria sampai anuria). Bila sudah terjadi asidosisi metabolis pasien akan tampak pucat dengan pernafasan yang cepat dan dalam (pernafasan kossmaul). Asidosisi metabolic terjadi kerena

· Kehilangan NaHCo3 melalui tinja diare

· Ketosisi kelaparan

· Produk-produk metabolic yang bersifat asam tidak dapat dikeluarkan (karena oliguria / anuria).

· Berpindahnya ion Natriun dari cairan ekstrasel ke cairan intrasel

· Penimbunan asam laktat (anoksia jaringan).

Tabel Kehilangan cairan pada dehidrasi berat menurut

berat badan pasien dan umur

Berat Badan

Umur

PWL

NWL

CWL

Jumlah

0-3 Kg

0-1 Bulan

150

125

25

300

3-10 Kg

1 Bulan-2 Tahun

125

100

25

250

10-15 Kg

2-5 Tahun

100

80

25

205

15-25 Kg

5-10 Tahun

80

25

25

130

Ket :

· PWL : Previous Water Loss (ml/kg BB) : cairan yang hilang karena muntah

· NWL : Normal Water Loss (ml/kg BB) : cairan hilang melalui urine, kulit, pernafasan

· CWL : Concomitan Water Loss (ml/kg BB) : cairan hilang karena muntah hebat

3.2. Pentingnya Penyuluhan terhadap Orang Tua

Adapun penyuluhan itu adalah :

a. Kebersihan perorangan pada anak. Mencuci tangan sebelum makan dan setiap habis bermain, memakai alas kaki jika bermain ditanah.

b. Membiasakan anak detelasi dijamban dan jamban harus selalu bersih agar tidak ada lalat.

c. Kebersihan lingkungan untuk menghindarkan adanya lalat.

d. Makanan harus selalu tertutup (jika diatas meja).

e. Kepada anak yang sudah dapat membeli makanan sendiri agar diajarkan untuk tidak membeli makanan yang dijajakan terbuka.

f. Air minum harus selalu dimasak. Bila sedang berjangkit penyakit diare selain air harus yang bersih juga perlu dimasak.

Berikan juga petunjuk bila anak menderita diare agar secepatnya diberi minum yang banyak (jelaskan apa perlunya) dan lebih baik dengan oralit / jika tidak ada dapat dengan larutan gula dan garam. Tetapi jika anak muntah lebih sering / buang air besar terus sehingga pemberian oralit tidak dapat menolong supaya segera dibawa berobat kepelayanan kesehatan agar tidak terlambat untuk mencegah anak tidak jatuh dalam keadaan dehidrasi berat. Dalam perjalanan agar anak terus diberi minum untuk mencegah bertambah beratnya dehidrasi.


BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Diare merupakan penyebab utama kematian pada bayi dan anak yang dapat terjadi pada siapa saja, semuanya telah dijelaskan pada bab I,II dan III yang dapat diambil suatu kesimpulan sebagai berikut :

1. Diare adalah keadaan frekwensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak, konsisitensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat pula bercampur lendir dan darah atau lendir saja (Ngastiyah, 2003).

2. Adapun penyebab diare antara lain : faktor infeksi, malabsorbsi (gangguan penyerapan zat gizi), makanan, dan faktor psikologis.

3. Setiap bayi yang menderita diare terancam bahaya dehidrasi, dimana dehidrasi dibagi tiga tingkat yaitu : dehidrasi ringan, sedang dan berat.

4. Untuk mengatasi diare, tentunya perlu pula peranan seorang petugas kesehatan dengan memberikan mutu pelayanan kepada masyarakat. Mutu itu sendiri adalah : tingkat kepatuhan terhadap standard yang telah ditetapkan (Crosby,1984).

5. Berdasarkan pembahasan diatas, didapatkan hasil sebagai berikut : kurangnya mutu pelayanan petugas kesehatan terhadap masyarakat yang ditandai dengan banyaknya bayi dan anak menderita diare (dapat dilihat diatas)

4.2. Saran

Berdasarkan penjelasan diatas maka penulis memberikan saran sebagai berikut :

1. Bila bayi dan anak terkena diare, maka ibu sebaiknya segera memberikan pertolongan dengan cara memberikan cairan oralit ataupun cairan gula dan garam.

2. Bila diare belum juga berhenti, maka segeralah bawa anak ke petugas kesehatan.

3. Bila anak masih minum ASI, maka teruskan pemberian ASI.

4. Perhatikan gizi dan makanan anak.

5. Jagalah kebersihan lingkungan.

Selasa, 10 Februari 2009

mutu pelayanan kesehatan dipuskesmas-RITA SRI YANTI

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Mutu pelayanan Kesehatan

2.1.1. Pengertian Mutu

“Mutu adalah faktor keputusan mendasar dari pelanggan”.

“Mutu adalah penentuan pelanggan, bukan ketetapan insinyur, pasar atau ketetapan manajemen. Ia berdasarkan atas pengalaman nyata pelanggan terhadap produk dan jasa pelayanan, mengukurnya, mengharapkannnya, dijanjikan atau tidak, sadar atau hanya dirasakan, operasional teknik atau subjektif sama sekali, dan selalu menggambarkan target yang bergerak dalam pasar kompetitif.

“Mutu adalah gambaran total sifat darisuatu produk atau jasa peayanan yang berhubngan dengan kemampuannya untuk memberikan kebutuhan kepuasaan” (American Society For Quality Control).

“Mutu adalah kecocokan penggunan produk (fitnes adalah us for use), untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasaan pelanggan” (Juran).

“Mutu adalah kesesuaian terhadap permintaan prsyaratan (The Conformance Of Requirements, Philip B, Crosby, 1979).

2.1.2. Trilogi Juran

2.1.2.1. Perencanaan mutu

Bahwa suatu mutu tidak datang secara kebetulan demikian saja, namun diperlukan penyelenggaraan pelatihan khusus. Suatu mutu harus dirancang atau direncanakan yang terdiri atas tahap-tahap sebagai berikut :

v Menetapkan (identifikasi) siapa pelanggan

v Menetapkan (identifikasi) kebutuhan pelanggan.

v Mengembangkan keistimewaan produk.

v Mengarahkan perencanaan kegiatan-kegiatan operasional

2.1.2.2. Pengendalian mutu

Kontrol mutu adalah proses deteksi atau koreksi adanya penyimpangan atau perubahan segera setelah terjadi, sehingga mutu dapat dipertahankan.Langkah kegiatan yang dikerjakan:

Ø Evaluasi kinerja dan kontrol produk

Ø Membandingkan kerja aktual terhadap tujuan produk

Ø Bertindak terhadap perbedaan atau penyimpangan mutu yang ada.

2.1.2.3. Peningkatan mutu

Peningkatan mutu mencakup dua hal, fitness for use dan mengurangi tinngkat kecacatan dan kesalahan. Keduanya menyangkut pelanggan internal dan eksternal.

Meningkatkan fitness for use mempunyai beberapa manfaat:

Ø Mutu lebih baik bagi pengguna

Ø Pangsa pasar yang besar untuk manufaktur

Ø Harga premi bagi manufaktur

Ø Status dipasaran bagi manufaktur

Mengurangi tingkat kecacatan dan kesalahan mempunyai manfaat:

Ø Mengurangi biaya dan beberapa gesekan bagi pengguna

Ø Mengurangi secara dramatis embiayaan bagi manus lebih murah

Ø Meningkatkan produktivitas lebih mudah diproduksi

Ø Mengurangi inventaris dalam mendukung konsep tepat waktu

Kegiatan-kegiatan peningkatan mutu

Ø Mengadakan infrastruktur yang diperlukan bagi upaya peningkatan mutu

Ø Identifikasi apa yang perlu ditingkatkan dan proyek peningkatan mutu

Ø Menetapkan tim proyek

Ø Menyediakan tim dengan sumber daya , pelatihan, motivasi untuk:

a) Mendiagnose penyebab

b) Merangsanng perbaikan

c) Mengadakan pengendalian agar tetap tercapai perolehan.

2.1.3. Proses Kendali Mutu

Secara sederhana proses kendali mutu dimulai (Quality Control) dimulai dari menyusun standar-standar mutu, selanjutnya mengukur kinerja dengan membandingkan kinerja yang ada dengan standar yang telah ditetapkan. Apabila tidak sesuai, dilakukan tindakan koreksi. Bila diinginkan peningkatan kinerja perlu menyusun standar baru yang lebih tinggi dan seterusnya.

v Kepuasan Pelanggan

Philip Kotler dalam bukunya “Marketing Management”, memberikan defenisi tentang kepuasaan pelanggan (customer satisfaction):

Kepuasaan adalah tingkat eadaan yang dirasakan seseorang yang merupakan hasil dari membandingkan penampilan atau outcome produk yang dirasakan dalam hubungannya dengan harapan seseorang”.

Kepuasaan pelanggan rumah sakit atau organisasi pelayanan kesehatan lain atau kepuasaan pasien dipengaruhi banyak faktor, antara lain yangbersangkutan dengan:

Pendekatan dan prilaku petugas, perasaan pasien terutama saat pertama kali datang

Mutu informasi yang diterima, seperti apa yang dikerjakan, apa yang dapat diharapkan, prosedur perjanjian

v Waktu tunggu

v Fasilitas umum yang tersedia

Fasilitas perhotelan untuk pasien seperti mutu makanan, privacy, dan pengaturan kunjungan

v Outcome terapi dan perawatan yang diterima.

Kepuasaan atau ketidakpuasaan adalah suatu keputusan penilaian. Puas atau tidak puas tergantung pada:

a) Sikapnya terhadap ketidaksesuaian (rasa senang atau tidak senang)

b) Tingkatan daripada evaluasi” untuk dirinya, melebihi, atau dibawah standar.

c) Produk dan kepuasaan pelanggan

d) Keputusan pelanggan dan kepuasaan produk

Kepuasaan pelanggan adalah hasil yang dicapai pada saat keistimewaan produk merespon kebutuhan pelanggan. Ini biasanya sama dengan kepuasaan produk.

Kepuasaan produk adalah suatu rangsangan terhadap daya jual produk, dampak utama dari kepuasaan produk adalah pada pangsa pasar, dan selanjutnya pada pendapatan dari penjualan.

Ketidakpuasaan pelanggan dan ketidak puasaan produk

Defesiensi produk pada dasarnya merupakan sumber dari ketidak puasaan pelanggan. Akibatnya adalah timbul adanya keluhan, tuntutan, mengembalikan barang, klaim, dan lain-lain.

2.1.4. Mutu Dalam Pelayanan Kesehatan

Mutu pelayanan kesehatan adalah penampilan yang pantas atau sesuai (yang berhubungan dengan standar-standar) dari suatu intervensi yang diketahui aman, yang dapat memberikan hasil kepada masyarakat yang bersangkutan dan yang telah mempunyai kemampuan untuk menghasilkan dampak pada kematian, kesakitan, ketidakmampuan dan kekurangan gizi (Milton I Roemer dan C Montoya Aguiler, WHO, 1988)

Dalam bukunya “The Definition And Approaches Its Assesment”, Avedis Donabedian (1980) mengatakan bahwa “mutu adalah suatu sifat yang dimiliki dan merupaka suatu keputusan terhadap unit pelayanan tertentu dan bahwa pelayanan dibagi kedalam dua golongan teknik dan interpersonal”.

Mutu dalam pelayanan kesehatan dapat dimaksudkan adalah dari aspek teknis medis yang hanya berhubungan langsung antara pelayanan medis dan pasien saja, atau mutu kesehatan dalam sudut pandang sosial dan pelayanan kesehatan secara keseluruhan, termasuk akibat-akibat manajemen administrasi, keuangan, peralatan dan tenaga kesehatan lainnya.

Menilai mutu adalah suatu keputusan yang berhubungan dengan proses pelayanan, yang berdasarkan tingkat dimana pelayanan memberikan kontribusi terhadap nilai outcomes.

Proses pelayanan dibagi dalam dua komponen utama, antata lain:

1. Proses interpersonal

Adalah wahana yang diperlukan untuk aplikasi dari pelayanan teknis, namun ia juga penting dalam kaidah-kaidahnya sendiri, karena ia sendiri adalah mungkin sebagai trapi atau penyembuh.

2. Pelayanan teknik(medis)

Adalah aplikasi ilmiah dan teknologi medis dan ilmu kesehatan lainnya, terhadap persoalan kessehata seseorang. Manajemen pelayanan medis adalah gabungan atau interaksi antara manajemen teknis medis dengan sosial psikologi antara klien dan praktisioner.

Arti mutu pelayanan kesehatan dari beberapa sudut pandang

a. Pengertian mutu untuk pasien dan masyarakat

mutu pelayanan merupakan suau empati, respek dan tanggap akan kebutuhannya, pelayanan harus sesuai dengan kebutuhan mereka, diberikan dengan cara yang ramah pada waktu mereka berkunjung.

Kepuasaan pasien adalah suatu kenyataan, tetapi sering diabaikan sebagai indikator mutu.

Kepuasaan pasien sering dipandang sebagai :

· Suatu komponen yang penting dalam pelayanan kesehatan.

· Berkaitan dengan kesemmbuhan dari sakit atau luka

· Hal ini lebih berkaitan dengan konsekuenssi daripada sifat pelayanan kesehatan itu sendiri

· Berkaitan pula dengan sasaran dan outcome dari pelayanan

· Dalam penilaian mutu dihubungkan dengan ketetapan pasien terhadap mutu atau kebagusan pelayanan

· Pengukuran penting yang mendasar bagi mutu pelayanan, karena ia memberikan informasi terhadap suksesnya provider bertemu dengan nilai dan harapan klien dimana klien adalah mempunyai wewenang sendiri.

b. Untuk petugas kesehatan

Mutu pelayanan berarti bebas melakukan segala sesuatu secara profesional untuk meningkatkan derajat kesehatan pasien dan masyarakat sesuai dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang maju, mutu peralatan yang baik dan memenuhi standar yang baik(state of the art)

Kepuasaan praktisioner adalah sebagai suatu ketetapan “kebagusan” terhadap penyediaan dan keadaan dari pekerjaan praktisioner, untuk pelayanan oleh kolega-kolega atau dirinya sendiri.

c. Untuk manajer atau administrator

Bagi yayasan atau pmilik rumah sakit, mutu dapat berarti memiliki tenaga profesional yang bermutu dan cukup.

Pelayanan medis yang baik

· Pelayanan medis yang baik adalah praktek kedokteran (pengobatan) yang rasional yang berdasarkan ilmu pengetahuan

· Pelayanan medis yang baik menekankan pencegahan

· Pelayanan medis yang baik, memerlukn kerjasama yanng cerdik (intelligent) antara pasien yang awam dan para praktisi yang ilmiah medis

· Pelayanan medis yang baik memperlakukan inddividu seutuhnya

· Pelayanan medis yang baik, mempertahankan hhbungan pribadi yang akrab dan berkesinambungan antara dokter dengan pasien

· Pelayanan medis yang baik dikoordinasikan dengan pekerjaan kesejahteraan sosial

· Pelayanan medis yang baik mengkoordinasikan semua jenis pelayanan kesehatan.

· Pelayanan medis yang baik termasuk pelaksanaan semua pelayanan yang diperlukan dari ilmu kedokteran modrn sesuai dengan kebutuhan semua orang

Mutu pelayanan kesehatan dalam perundang-undangan:

1. Undang-undang no 23 tahun 1992 tentang kesehatan

2. Mutu dalam kesehatan nasional (SKN)

Dalam SKN Keputusan Menteri Kesehatan RI No.99a/Men Kes/SK/III/1982 tentang berlakunya Sistem Kesehatan Nasional dan pokok-pokok upaya kesehatan disebutkan bahwa tujuan peningkatan upaya kesehatan adalah untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau oleh masyarakat terutama yang berpenghasilan rendah dengan peran serta masyarakat secara aktif.

Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi tiap penduduk agar dapat mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yng optimal, sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional.

3. RP3JPK (1983)

Keptusan Menteri Kesehatan RI No.35/MenKes/SK/II/1983 tentang rencana pokok Program Pembangunan Jangka panjang Bidang Kesehatan (1983/p4-19998/1999)

4. GBHN 1993, tap MPR No.II/MPR/1993

2.2. MENJAGA MUTU (QUALITY ASSURANCE) PELAYANAN KESEHATAN

Menjaga mutu (quality assurance) adalah terminologi dimana pada umumnya merujuk pada usaha-usaha profesional pelayanan kesehatan dan institusi-institusi dalam menyediakan fakta/ keterangan-keterangan/bukti dimana mutu dari utilisi pelayanan medis diselenggarakan

Empat Prinsip menjaga mutu:

1. Berorientasi kedepan untuk mempertemukan kebutuhan dan harapan pasien dan masyarakat

2. Memfokuskan pada sistem dan proses

3. Menggunakan data untuk menganalisis proses penyampaian pelayanan

4. Mendorong suatu pendekatan diri dalam pemecahan masalah dan peningkatan mutu

2.2.1. Syarat Progam menjaga mutu

v bersifat khas

v mampu melaporkan setiap penyimpangan

v fleksibel dan berorientasi pada masa depan

v mencerminkan dan sesuai kengan organisasi

v muudah dilaksanakan

v mudah dimengerti

v mamfaat program menjaga mutu:

v dapat lebih meningkatkan efektifitas pelayanan kesehata

v dapat lebihmeningkatkan penerimaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan

v dapat melindungi pelaksana pelayanan dari kemungkinan munculnya gugatan hukum

2.3. POS PELAYANAN TERPADU

POSYANDU

2.3.1. Pengertian Posyandu

Adalah suatu forum komunikasi, alih teknologi dan pelayanan kesehatan masyarakat oleh dan untuk masyarakat yang mempunyai nilai strategis dalam mengembangkan sumber daya manusia sejak dini.

Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dan keluarga berencana. (Nasrul Effendi : 1998)

Kegiatan posyandu merupakan kegiatan nyata yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan dari masyarakat, yang dilaksanakan oleh kader-kader kesehatan yang telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan dari puskesmas mengenai pelayanan kesehatan dasar. (Nasrul Effendi : 1998)

Posyandu adalah pusat pelayanan keluarga berencana dan kesehatan yang dikelola dan diselenggarakan untuk dan oleh masyarakat dengan dukungan teknis dari petugas kesehatan dalam rangka pencapaian NKBBS. (Nasrul Effendi : 1998)

2.3.2. Tujuan posyandu

a) mempercepat penurunan angka kematian Ibu dan Anak

b) Meningkatkan pelayanan kesehatan ibu untuk menurunkan IMR

c) Mempercepat penerimaan NKBBS

d) Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan kegiatan-kegiatan lain yang menunjang peningkatan kemampuan hidup sehat

e) Pendekatan dan pemerataan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dalam usaha meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada penduduk berdasarkan letak geografi

f) Meningkatkan pembinaan dan peran serta masyarakat dalam rangka alih teknologi untuk swakelola usaha-usaha kesehatan masyarakat.

2.3.3. Sasaran posyandu

· Bayi berusia kurang dari 1 tahun

· Anak balita berusia kurang dari 1 tahun

· Anak balita berusia 1-5 tahun

· Ibu hamil, ibu menyusu dan ibu nifas

· Wanita usia subur

· Kegiatan posyandu

a. Lima kegiatan Posyandu (Panca Krida Posyandu) :

1. Kesehatan ibu dan anak

2. Keluarga berencana

3. Immunisasi

4. peningkatan gizi

5. penanggulangan diare

b. Tujuh kegiatan posyandu

1. kesehatann ibu dan anak

2. keluarga berencana

3. immunisasi

4. peningkatan gizi

5. penanggulangan diare

6. sanitasi dasar

7. penyediaan obat esensial

2.3.4. Pembentukan Posyandu

· Posyandu dibentuk dari pos-pos yang telah ada seperti

a. pos penimbangan balita

b. pos immunisasi

c. pos keluarga berencana

d. pos kesehatan

e. pos lainnya yang bentuk baru

f. persyaratan posyandu

g. penduduk RW paling sedikit terdapat 100 orang balita

h. terdiri dari 120 KK

i. disesuaikan dengan kemampuan petugas (Bidan Desa)

j. jarak antara kelompok rumah, jumlah KK dala satu tempat atau kelompok tidak terlalu jauh.

· Alasan pendirian posyandu

Posyandu dapat memberika pelayanan kesehatan khususnya upaya pencegahan penyakit dan PPPK sekaligus dengan pelayanan Kb posyandu dari masyarakat untuk masyarakat dan oleh masyarakat, sehingga menimbulkan rasa memiliki masyarakat terhadap upaya dalam bidang kesehatan dan keluarga berencana.

2.3.5. Penyelenggaraan posyandu

· Pelaksanaan kegiatan

Adalah anggota masyarakat yang telah dilatih menjadi kader kesehatan setempat dibawah bimbingan Puskesmas

· Pengelola posyandu

Adalah pengurus yang dibentuk oleh ketua RW yang berasal kader PKK, tokoh masyarakat formal dan informal serta

Kader kesehatan yang ada diwilayah kerja tersebut.

· Lokasi/letak posyandu

Berada ditempat yang mudah didatangi masyarakat

Ditentukan oleh masyarakat sendiri

Dapat merupakan lokal tersendiri

Bila tidak memungkinkan dapat dilaksanakan dirumah penduduk, balai rakyat, pos RT/RW atau pos lainnya.

· Pelayanan kesehatan yang dijalankan

a. Pemeliharaan kesehatan bayi dan balita :

b. Penimbangan bulanan

c. PMT yang berta badannya kurang

d. Immunisasi bayi 3-14 bulan

e. Pemberian oralit yang menanggulangi diare

f. Pengobatan penyakit sebagai pertolongan pertama

· Pemeliharaan kesehatan ibu hamil, ibu menyusui, dan pasangan usia subur

1. pemeriksaan kesehatan umum

2. Pemeriksaan kehamilan dan nifas

3. Pelayanan peningkatan gizi melalui pemberian vitamin dan pil penambah darah

4. Immnunisasi TT untuk ibu hamil

5. Peyuluhan kesehatan dan KB

6. Pemberian alat kontrasepsi KB

7. Pemberian oralit pada ibu yang terkena diare

8. Pengobatan penyakit sebagai pertolongan pertama

9. Pertolongan petama pada kecelakaan

· Sikap lima meja di Posyandu

a. Meja I

Pendaftaran

Pencatatan bayi, balita,, ibu hamil, ibu menyusui, dan PUS

b. Meja II

Penimbangan balita dan ibu hamil

c. Meja III

Pengisian KMS

d. Meja IV

Diketahui berat badan anak yang belum mengikuti KB

Pelayanan TMT, oralit, vitamin A, tablet zat besi, pil ulangan, iodium.

e. Meja V

Pemberian imnunisasi

f. Pemeriksaan kehamilan

Pemeriksaan kesehatanan dan pengobatan

Pelayanan kontrasepsi IUD, suntikan dll

Untuk meja I sampai dengan IV dilaksanakan oleh kader kesehatan dan untuk meja V dilaksanakan oleh petugas kesehatan diantaranya dokter, bidan, perawat juru immunisasi dan sebagainya.

2.3.6. Prinsip dasar Posyandu

· Pos Pelayanan Terpadu merupakan usaha masyarakat di mana terdapat perpaduan antara pelayanan antara pelayanan profesional dan nonprofesonal (oleh masyarakat).

· Adanya kerja sama lintas program yang baiki (KIA, KB, Gizi, Immunisasi, penanggulangan diare), maupun lintas sektoral (depkes RI, Depdagri, Bangdes dan BKBBN).

· Kelembagaan masyarakat (pos desa, kelompok timbangan/pos timbang, pos immunisasi, pos keshatan dll)

· Mempunyai sasaran penduduk yang sama.

· Pendekatan yang digunakan adalah pengembangan PKMD/PHC

2.3.7. Pelaksanaan posyandu

Pos pelayanan terpadu melibatkan petugas puskesmas, petugas BKKBN sebagai penyelenggara pelayanan profesional dan peran serta masyarakat secara aktif dan positif sebagai penyelenggara pelayanan non profesional secara terpadu dalam rangka alih teknologi dan swakelola masyarakat.

Dari segi petugas puskesmas

· Pendekatan yang dipakai adalah pengembangan dan pembinaan PKMD

· Perencanaan terpadu tingkat Puskesmas (mikro planning), lokakarya mini.

· Pelaksanaan sistem 5 meja dan alih teknologi.

Dari segi masyarakat

· Kegiatan swadaya masyarakat yang diharapkan adanya keder kesehatan

· Perencanaan melalui musyawarah masyaarakat desa

· Pelaksanaan melalui sistem 5 meja

· Dukungan lintas sektoral sangat diharapkan mulai dari tahap persispa/perencanaan, pelaksanaan, bahkan penilaian dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat baik dalam segi motivasi maupun teknis dari masing-masing sektor.

Langkah-langkah pembentukan posyandu

Persiaan sosial :

· Persiapan masyarakat sebagai pengelola dan pelaksana Posyandu

· Menyusun wahana kegiatan posyandu

· Pelaksanaan kegiatan posyandu

· Kegiatan posyandu 1x sebulan atau lebih

· Pengumpulan dana sehat

· Pencatatn dan laporan kegiatan posyandu

· Evaluasi kegiatan posyandu

· Evaluasi hasil kegiatan yang sedang berjalan

· Evaluasi hasil kegiatan yang sesuai dengan batas yang telah ditetapkan

MAKALAH BBLR LISA ERVINA 3a AKBID DEPKES

MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY ”M” BAYI BARU LAHIR DENGAN BBLR DI COVISE RS. DR. M. DJAMIL PADANG
TANGGAL 30-31 OKTOBER 2008














Oleh :


LISA ERVINA
06042562











POLITEKNIK KESEHATAN PADANG
DEPARTEMENT KESEHATAN RI
PADANG
2008

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat ALLAH SWT karena atas karunia-Nyalah penulis dapat menyelesaikan maklah yang berjudul ‘’MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY ‘M’ DENGAN BBLR DI RUANG COVISE RSUP M DJAMIL PADANG TANGGAL 30 – 31 OKTOBER 2008 ‘ ini.
Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Bu widdefrita selaku pembimbing akademik yang telah memberikan pengarahan dan petunjuk dalam pembuatan makalah ini.
2. Bu Rika Hardi Amd.keb yang telah memberikan kesempatan bagi penulis dan telah membimbing penulis dalam pembuatan makalah ini.
3. Keluarga Misdawati dan bayinya yang telah bersedia membantu dalam kelancaran pembuatan makalah ini.
4. Seluruh staf di ruang covise RSUP M DJAMIL PADANG dan juga teman-teman yang banyak membantu.
i
Penulis menyadari dalm pembuatan makalah ini masih terdapat kekurangan, oleh karena itu sangat mengharapkan kritik dan saran yang mendukung dalam pembuatan makalah ini lebih baik selanjutnya.
Penulis berharap dengan adanya makalh ini dapat menjadi bahan pembelajaran bagi semua pembaca dan dapat bermanfaat.
Akhir kata penulis ucapkan terima kasih.


Wassalam

Penulis








ii


BAB I
PENDAHULUAN

I.I LATAR BELAKANG
Bayi berat badan lahir rendah ( BBLR ) maupun bayi kurang bulan (BKB ) merupakan masalah utama di negara berkembang termasuk Indonesia.
BBLR sampai saat ini masih merupakan masalah di Indonesia, karena merupakan penyebab kesakitan dan kematian pada masa neonatal. Menurut SKRT 2001, 29 % kematian neonatal karena BBLR.
Masalah yang sering timbul sebagai penyulit BBLR adalah hipotermi, hiperbilirubinemia, hipoglikemi, infeksi / sepsis dan ganguan minum. Dengan banyaknya penyulit pada BBLR, kita harus dapat mencegahnya mulai dari meningkatkan pengetahuan ibu tentang BBLR dan langkah – langkah untuk mencegah hal tersebut.

I.2 TUJUAN
TUJUAN UMUM
Mahasiswa mampu :
v Menjelaskan tentang penyebab dan komplikasi BBLR
v Melakukan manajemen BBLR dengan berbagai penyulitnya sesuai dengan fasilitas yang tersedia.

TUJUAN KHUSUS
Mahasiswa memiliki kemampuan untuk :
v Menjelaskan beberapa penyebab dan factor predisposisi BBLR
v Mengidentifikasikan BBLR menurut masa gestasi
v Melakukan manajemen BBLR
v Melaksanakan pengkajian terhadap klien dengan kemudian dianalisa dan ditentukan diagnosa kebidanan dengan menentukan prioritas masalah
v Menyusun rencana asuhan selanjutnya untuk memenuhi kebutuhan klien sesuai dengan prioritas
v Melaksanakan dan menerapkan rencana yang telah ditentukan
v Mengevaluasi keefektifan semua rencana asuhan yang telah ditetapkan.
BAB II
TINJAUAN TEORI

I. DEFENISI
Bayi berat badan lahir rendah ( BBLR ) adalah bayi baru lahir ( BBL) dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram.
Berat lahir ( BL ) / Birth weight adalah berat badan bayi baru lahir yang di timbang sejak 0-24 jam setelah lahir.
Bayi berat lahir sangat rendah ( BBLSR) / Very low birth weight infant adalah BBL dengan berat lahir kurang dari 1500 gram sampai 1000 gram.
Bayi berat lahir amat sangat rendah / BBLASR adalah BBL dengan berat lahir kurang dari 1000 gram.
Bayi kurang bulan (BKB ) adalah BBL dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu (< 259 Hari).
Bayi imatur adalah BBL dengan usia kehamilan < 28 minggu.
Bayi cukup bulan ( BCB ) adalah BBL dengan usia kehamilan 37-42 minggu.
Bayi lebih bulan (BLB ) adalah BBL dengan usia kehamilan > 42 minggu .
BBLR dapat dikelompokan menjadi:
ü BBLR, BCB, SMK
Adalah bayi berat badan lahir rendah, bayi cukup bulan, sesuai masa kehamilan.
ü BBLR, BCB, KMK
Adalah bayi berat badan lahir rendah, bayi cukup bulan, kecil masa kehamilan.
ü BBLR, BKB, BMK
Adalah bayi berat badan lahir rendah, bayi kurang bulan, besar masa kehamilan.
ü BBLR, BKB, KMK
Adalah bayi berat badan lahir rendah, bayi kurang bulan, kecil masa kehamilan.
ü BBLR, BLB, KMK
Adalah bayi berat badan lahir rendah, bayi lebih bulan, kecil masa kehamilan.

II. ETIOLOGI
Penyebab kelahiran bayi kurang bulan ( BKB ) sebagian besar belum diketahui. BKB pada kasus BBLR berhubungan dengan kondisi sebagai berikut:
· Ras
· Status social ekonomi
· Usia ibu
· Aktifitas ibu
· Ibu menderita penyakit akut / kronis
· Kehamilan multiple
· Kehamilan sebelumnya jelek
· Factor – factor kebidanan
· Kelahiran dini
· Factor janin
BBLR dapat disebabkan karena
· Persalinan kurang bulan / premature
Bayi lahir pada umur kehamilan antara 28- 36 minggu. Pada umumnya bayi kuragng bulan disebabkan karena tidak mampunya uterus menahan janin, gangguan selama kehamilan, lepasnya plasenta lebih cepat dari waktunya atau rangsangan yang memudahkan terjadinya kontraksi uterus sebelum cukup bulan. Bayi lahir kurang bulan mempunyai organ dan alat tubuh yang belum berfungsi normal untuk bertahan hidup di luar rahim. Kelompok BBLR ini sering mendapatkan penyulit atau komplikasi akibat kurang matangnya organ karena masa gestasi yang kurang/ permatur.
· Bayi lahir kecil untuk masa kehamilan
Bayi lahir kecil untuk masa kehamilannya karena ada hambatan pertumbuhan saat dalam kandungan ( janin tumbuh lambat). Retardasi pertumbuhan intrauterine berhubungan dengan keadaan yang mengganggu sirkulasi dan efisiensi plasenta dengan pertumbuhan dan perkembangan janin atau dengan keadaan umum dan gizi ibu. Keadaan ini mengakibatkan kurangnya oksigen dan nutrisi secara kronik dalam waktu yang lam untuk pertumbuhan dan perkembangan janin. Kematangan fungsi organ tergantung pada usia kehamilan walaupun berat lahirnya kecil
Etiologi BBLR, KMK :
a) Factor ibu
· Genetic
· Usia
· Ras
· Diluar pernikahan
· Sebelumnya BBLR
· Penyakit kronis factor yang mempengaruhi dan oksigenasi plasenta yaitu penyakit jantung, penyakit ginjal, hipertensi/ HDK / REB.
· Merokok
· Kelainan eritrosit
· Penyakit paru – paru
· Penyakit kolagen vaskuler
· DM
· Lebih bulan
· Kehamilan multiple
· Anomaly rahim
· Penyakit vaskuler ibu
· Antibody anti fosfolipid
b) Lesi plasenta
· Skunder terhadap penyakit vaskuler ibu
· Kembar
· Malformasi
· tumor
c) Factor janin
· Konstitusi, normal ukuran bayi kecil genetic
· Kromosom abnormal
· Infeksi congenital ( TORCH)
· Rubella : 60% bayi KMK
· CMV : 40% bayi KMK
· Malformasi
· Kembar



III. KOMPLIKASI BBLR
Komplikasi penyakit BBLR sangat tergantung dari klasifikasi BBLR tersebut apakah:
a. BBLR, kurang bulan
b. BBLR, kecil masa kehamilan
c. BBLR, besar masa kehamilan

BBLR, BKB :
Pada bayi kurang bulan , system fungsi dan struktur organ tubuh masih sangat muda belum berfungsi optimal, sehingga akan muncul komplikasi / penyakit lain sbb:
· Asfiksia perinatal
· Susunan syaraf pusat
· Koplikasi pada saluran per nafasan
· Themoregulasi dan sumber panas
· Koplikasi pada kardiovaskuler
· Komplikasi saluran pencernaan
· Metabolisme
· Komplikasi hematologist
· Imunologis
· Penyakit ginjal
· Opthalmologis

BBLR, KMK :
· Depresi perinatal
· Aspirasi mekonium
· Perdarahan paru- paru
· Hipertensi paru- paru persisten
· Hipoksemia
· Hipoglikemia
· Hipokalsemia
· Hiponatremia
· Polisitemia





Table Gambaran tentang komplikasi BBLR
Anamnesis
Pemeriksaan
Pemeriksaan penunjang
Kemungkinan diagnosis
Bayi terpapar dengan suhu lingkungan yang rendah,waktu timbulnya kurang 2 hari







Kejang timbul saat lahir sampai dengan hari ke 3
Riwayat ibu diabetes
Menangis lemah
Kurang aktif
Malas minum
Kulit teraba dingin
Kulit mengeras kemerahan
Frekuensi jantung kurang 100 kali permenit
Nafas pelan dan dalam

Kejang, tremor, letargi atau tidak sadar
Suhu tubuh kurang 36,5 C











Kadar glucose darah kurang 45 mg/dl
Hipotermi












hipoglikemia
Ikterik
Timbul saat lahir sampai dengan hari ke 3
Berlangsung lebih dari 3 minggu
Riwayat infeksi maternal
Riwayat ibu pengguna obat
Riwayat ikterik pada bayi yang lahir sebelumnya
Kulit, konjungtiva berwarna kuning
pucat

Ikterus / hiperbilirubinemia
Ibu tidak dapat / tidak berhasil menyusui
Malas atau tidak mau minum
Waktu timbul sejak lahir

Kenaikan berat badan bayi < 20 gram/hr selama 3 hari
Masalah pemberian minum
Ibu demam sebelum dan selama persalinan
KPD
Persalinan dengan tindakan
Timbul asfiksia pada saat lahir
Bayi malas minum
Timbul pada saat lahir sampai 28 hari

Bila ditemukan beberapa dari temuan ganda:
Bayi malas minum
Demam tinggi
Bayi letargi kurang aktif
Gangguan nafas
Sklereman/ skleredema/
kejang
Laboratorium darah
Infeksi / curiga sepsis
Bayi KMK / lebih bulan
Air ketuban bercampur mekonium
Lahir dengan riwayat asfiksia
Lahir dengan asfiksia
Air ketuban bercampur mekonium
Tali pusat berwarna kuning kehijauan
Bila bersedia : pemeriksaan radiology dada
Sindroma aspirasi mekonium



IV. DIAGNOSA BBLR
Menentukan usia kehamilan berdasarkan :
· Perhitungan HPHT : tanggal +7, bulan -3, tahun +1
· Maturitas fisik dan neurologist bayi paska natal dengan skor dubowitz, ballard maupun simplified dubowitz.

DIAGNOSTIK
Anamnesis :
· Umur ibu
· Riwayat persalinan sebelumnya
· Jumlah paritas, jarak kelahiran sebelumnya
· Kenaikan BB selama hamil
· Aktivitas
· Penyakit yang diderita selama hamil
· Obat- obatan yang diminium selam hamil
Pemeriksaan fisik:
· Berat lahir < 2500 gram
· Untuk BBLR kurang bulan

Tanda permaturitas :
ü Tulang rawan telinga belum terbentuk
ü Masih terdapat lanugo
ü Refleks masih lemah
ü Alat kelamin luar : pada perempuan labium mayus belum menutup labium minus. Pada laki-laki belum terjadi penurunan testis dan kulit testis rata ( rugae testis belum terbentuk )
· Untuk BBLR kecil untuk masa kehamilan
Tanda janin tumbuh lambat :
ü Tidak dijumpai tanda prematuritas
ü Kulit keriput
ü Kuku lebih panjang
V. PENGELOLAAN BBLR
Meliputi tiga tahap :
· Ante / intrapartum
· Di kamar bersalin
· Pengelolaan dikamar bayi

1. Pengelolaan ante / intrapartum
Setiap kehamilan di pertahankan sampai aterm.
Apabila ada gawat janin, kehamilan dipertahankan paling tidka sampai maturitas janin optimal setelah usia kehamilan lewat 35 mg, dimana organ tubuh dapat berfungsi optimal di luar rahim.
Karena kendala utama perawtan bayi kurang bulan di negara berkembang adalah adanya komplikasi penyakit membran hyalin.
a.Jika terjadi gawat janin
- Dilakukan resusitasi intrauterine
- Kehamilan dicoba dipertahankan dengan pemberian tokalitik dan mencegah infeksi dengan antibiotik yang aman buat bayi
b. Kehamilan < 35 mg dan tidak dapat dipertahankan untuk mempercepat pemasangan paru-paru janin, ibu diberi kotrikosteroid dosis tunggal
c.Beberapa jam sebelum persalinan di mulai

- Bagian UPF anak diberi informasi bahwa akan lahir bayi BKB/ BBLR serta akan lahir dari ibu-ibu dengan resiko seperti:
KPD
Ibu HDK
PEB
Dekomposisi cordis
TBC infeksi TORCH
2. Dikamar bersalin
Sebelum bayi lahir yang harus dilakukan adalah:
a) Menyiapkan alat-alat resusitasi
- Paramedis menyiapkan aat resusitasi dan fasilitas perawatan bayi apakah lengkap/ tidak dan berfungsi / tiak
- Meja resusitasi, lampu penghangat dan penerang
- Pengisap lendir disposable dan suction pump bayi
- Ambulans incubator
- O2 dengan flow meter
- Status, tanda identitas bayi-ibu
- Informasikan ke perawatan intensif akan ada BKB/ BBLR untuk perawatan bayi
Dokter anak mencek semua persiapan
Tim resusitasi sudah siap
b) Resusitasi
- Agak berbeda resusitasi BKB dan BCB
BKB memerlukan:
Intervensi lebih cepat dan proaktif
Stabilisasi suhu dan oksigenasi
- Lakukan resusitasi
- Tentukan apgar skor dan prognosis bayi
c) Paska resusitasi
- Lakukan pemeriksan fisik diagnostik
- Tentukan masa gestasi berdasarkan skor Dubowita/ modifikasi
- Tentukan pertumbuhan janin berdasarkan kurva lubchenco
- Lakukan diagosa kerja
- Lakukan perawtan talipusat dengan antibiotik
- Tetes maya yang mencegah infeksi go
- Vitamin K
- Beri indentifikasi pada ibu dan bayi
d) Indikasi perawatan BKB, BBLR sesuai masa gestasi, berat lahir dan klinis kondisi BKB/ BBLR, bayi dirawat dalam 3 tempat perawatan.
- Perawatan I/ raawt gabung/ rooming in
- BBLR sampai 2250 gr, sehat tanpa komplikasi dirawat gabung
- Perawatan II
- BBLR-BBLSR è perawawatan khusus
- Perawatan III/ intensiv

Secara umum perawatan BKB BBLR sebagai berikut:
1) Mempertahankan suhu tubuh optimal
2) Memenuhi kebutuhan O2
3) Memenuhi kebutuhan Nutrisi
4) Mengatasi hiperbilirubinemia
5) Memenuhi kebutuhan psikologis
6) Mencegah dan mengatasi timbulnya PDA
7) Melibatkan perawatan kedua orang tua
8) Progam imunisasi

Kotak suhu inkubator berdasarkan BB dan umur
BB
Suhu Inkubator
35oC
34oC
33oC
32oC
< 1500 gr
1500-2000 gr
2100-2500
> 2500
1 – 10 hr
11 – 13 mg
1 – 10 hr
1 – 2 hr
3 – 5 mg
11 hr – 4 mg
3 hr – 3 mg
1 – 2 hr
> 5 mg
> 4 mg
> 3 mg
> 2 hr

VI. MANAJEMEN UMUM
Setiap menemukan BBLR, lakukan manajemen umum sebagai berikut:
- Stabilisasi suhu, jaga bayi tetap hangat
- Jaga jalan napas tetap bersih dan terbuka
- Nilai segera kondisi bayi tentang tanda vitalnya: pernapasan, denyut jantung, warna kulit dan aktifitasnya
- Bila bayi mengalami gangguan napas, dikelola gangguan napas
- Bila bayi kejang, potong kejang dengan anti konvulsna
- Bila bayi dehidrasi, pasang jalur intravena, berikan cairan rehidrasi i.v.
- Bila bayi dehidrasi, pasang jalur intravena, berikan cairan rehidrasi i.v.
- Kelola sesuai dengan kondisi spesifik atau komplikasinya

Pemberian minum
- Apabila bayi mendapat ASI, pastikan bayi menerima jumlah yang cukup dengan cara papaun
- Periksa apakah bayi puas setelah menyusu
- Catat jumlah urine setiap bayi kencing untuk menilai kecukupan minum (paling kurang 6 kali sehari)
- Timbang bayi setiap hari, hitung penambahan/ pengurangan berat, sesuaikan pemberian cairan dan susu, serta catat hasilnya.
- Bayi dengan berat 1750-2500 gr tidak boleh kehilangan berat lebih 10 % dari berat lahirnya pada 1-5 hari pertama
- Apabila bayi telah menyusu ibiu, perhatikan cara pemberian ASI dan kemampuan bayi mengisap paling kurang sehari sekali
- Apabila bayi sudah tidak mendapatkan cairan IV dan beratnya naik 20 g/ hari selama 3 hari berturut-turut, timbang bayi 2 kali seminggu.

Berta lahir 1750-2500 gram
Bayi sehat
- Biarkan bayi menyusu ke ibu semau bayi ingat bahwa bayi kecil lebih mudah merasa letih dan malas minum, anjurkan bayi menyusu lebih sering (misal setiap 2 jam) bila perlu.
- Patau pemberian minum dan kenaikan berat badan untuk menilai efektivitas menyusui. Apabila bayi kurang dapat mengisap, tambahkan ASI peras dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum.
Bayi sakit
- Bila BB 1750-2000 gram atau lebih dengan gangguan napas, kejang dan gangguan minum segera dirujuk
- Apabila bayi dapat minum per oral dan tidak memerlukan cairan IV, berikan minum seperti pada bayi sehat
- Apabila bayi memerlukan cairan IV:
- Hanya berikan cairan IV selama 24 jam pertama
- Mulai berikan munum per oral pada hari 2 segera setelah bayi stabil. Anjurkan pemberian ASI apabila ibu ada dan bayi menunjukkan tanda-tanda siap untuk menyusui.
- Berikan cairan IV dan Asi menurut umur, lihat tabel
- Beirkan munum 8 kali dalam 24 jam (misal 3 jam sekali), apabila bayi telah mendapat minum 160 ml/ kg berat badan per hari tetapi masih tampak lapar berikan tambahan ASI setiap kali minum.
- Biarkan bayi menyusui apabila keadaan bayi sudah stabil dan bayi menunjukkan keinginan untuk menyusu dan dapat menyusu tanpa terbatuk atau tersedak.
Pemantauan
1. Kenaikan berat badan dan pemberian munum seteah umur 7 hari
- Bayi akan kehilangan berat selama 7-10 hari pertama. Bayi berat lahir > 1500 g dapat kehilangan BB sampai 10 % dari berat lahir. Berat lahir biasanya tercapai kembali dalam 14 hari kecuali apabila terjadi komplikasi.
- Setelah berat lahir tercapai kembali, kenaikan berta badan selama tiga bulan seharusnya.
150-200 g seminggu untuk bayi < 1500 g (mislanya 20-30 g/ hari)
200-250 g seminggu untuk bai 1500-2500 g (misalnya 30-35 g/ hari)
- Bila bayi sudah mendapat ASI secara penuh (pada semua kategori berat) dan telah berusia lebih dari 7 hari.
Tingkatkan jumlah ASI dengan 20 ml/ kg/ hari sampai tercapai jumlah 180 ml/kg/hari.
Tingkatkan jumlah ASI sesuai kenaikan berat badan bayi agar jumlah pemberian Asi tetap 180 ml/kg/hari
Apabila kenaikan berat tidak adekuat, tingkatkan jumlah pemberian ASI sampai 200 ml/kg/hari
Apabila kenaikan berat tetap kurang dari batas yang telah disebutkan di atas dlaam waktu lebih seminggu padahal bayi sudah mendapa ASI 200 ml/ kg BB per hari, tangani sebagai kemungkinan kenaikan bera badan tidak adekuat.
2. Tanda kecukupan pemberian ASI
- Kencing minimal 6 kai dalam 24 jam
- Bayi tidur lelap setelah pemberian ASI
- Peningkatan berat bada setelah 7 hari pertama sebanyak 20 gram setiap hari.
Pemulangan penderita:
- Bayi suhu stabil
- Toleransi munum per oral baik, diutamakan pemberian ASI, bila tidak bisa diberikan ASI dengan cara menetek dapat diberikan dengan alternatif cara pemberian minum yang lain
- Ibu sanggup meraawt BBLR di rumah.
MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY “ M “
B A Y I B A R U L A H IR D E N G A N B B L R
DI COVISE RS DR M DJAMIL PADANG
TANGGAL 30 – 31 OKTOBER 2008

I. PENGUMPULAN DATA
A. IDENTITAS / BIODATA
Nama bayi : bayi ny “ M”
Umur : 8 hari
Jenis kelamin : perempuan
Tanggal lahir : 22 oktober 2008
Jam lahir : 17.05 wib
BB : 1400 gr
PB : 40 cm

Nama ibu : ny “M”
Umur : 36 th
Agama : islam
Suku : minang
Bangsa : indonesia
Pendidikan : SMU
Pekerjaan : IRT
Alamat : kapalo koto pauh no. 29

Nama suami : tn “Z “
Umur : 36 th
Agama : islam
Suku : minang
Bangsa : indonesia
Pendidikan : SMU
Pekerjaan : swasta
Alamat : kapalo koto pauh no. 29

B. DATA SUBJEKTIF
Tanggal : 30 oktober 2008
Pukul : 14.00 wib
1. Riwayat penyakit kehamilan
· perdarahan : tidak ada
· pereklamsi : ada
· eklamsi : tidak ada
· lain-lain : tidak ada
2. kebiasaan waktu hamil
· makan : tidak ada
· obat / jamu : tidak ada
· merokok : tidak ada
· lain-lain : tidak ada
3. riwayat persalinan sekarang
· jenis persalinan : SC
· di tolong oleh : dokter
· lama persalinan
Ø kala I : -
Ø kala II : -
Ø kala III : -
Ø kala IV : -
· ketuban pecah
· komplikasi persalinan
Ø ibu :ada
Ø Bayi :-

· keadaan BBL
apgar skor : 5/6
4. resusitasi
· pembersihan jalan nafas : ada
· ambu : tidak ada
· masase jantung : tidak ada
· intubasi endotrakeal : tidak ada
· oksigen : ada

C. DATA OBJEKTIF
KU : baik
Nadi : 122 X/ menit
Suhu : 36,8 C
Nadi : 50 x/mnt
BB : 1400 gram
PB : 40 cm
Pemeriksaan fisik secara sistematik :
· Kepala : tidak ada kelainan
· Ubun – ubun : datar
· Muka : tidak oedema
· Mata : konjungtiva tidak anemis,
sclera tidak ikterik
· Telinga : tidak ditemukan
kelainan,telinga
masih lunak bila diraba
· Mulut : normal dan tidak ada kelainan, daya isap bayi normal.
· Hidung : tidak ditemukan adanya
kelainan
· Leher : tidak pembesaran kelenjar
tiroid dan kelenjar limfe
· Dada : simetris, putting susu ada
· Tali pusat : tidak ditemukan adanya tanda infeksi
· Punggung : tidak ada kelainan, tulang punggung teraba lurus
· Extremitas : jumlah jari cukup, tidak ada
ditemukan kelainan.
· Genitalia : tidak ada kelainan
· Anus : ada
Reflek :
· Reflek moro : +
· Reflek rooting : +
· Reflek grasping : +
· Reflek sucking : +
· Reflek tonick neck : +

Antropometri
· Lingkar kepala : 23,5 cm
· Lingkar dada : 23 cm
· Lingkar lengan atas : 13 cm
Eliminasi
· Miksi : +
· Mekonium : +



MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI NY “ M”
B A Y I B A R U L A H I R D E N G A N B B L R
DI COVISE RS DR. M DJAMIL PADANG
TANGGAL 30-31 OKTOBER 2008


DATA DASAR
INTER PRETASI DATA
ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL
TINDAKAN SEGERA

PERENCANAAN

PELAKSANAAN

EVALUASI
Tanggal :30 oktober2008
Pukul : 14.00 wib

DS :
Ø Keluarga mengatakan ibu bayi sudah meninggal
Ø Keluarga mengatakan bayi lahir dengan operasi
Ø Berat lahir 1400 gram.

DO :
Ø Keadaan cukup aktif
Ø Nadi 122 x/i
Ø Suhu 36,8 c
Ø Nafas 50 x/i
Ø Sesak tidak ada
Ø Kejang tidak ada
Ø Kepala : UUB datar
Ø Muka : tidak odema
Ø Mata : konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik
Ø Leher : tidak ada pembesaran kelenjer tiroid dan kelenjar limfe
Ø Dada : simetris, putting susu ada
Ø Extermitas : tidak ada kelainan
Ø Anus : ada
Diagnosa :
Bayi baru lahir dengan BBLR, ku sedang.

Dasar :
Ø Berat lahir 1400 gr
Ø Keadaan cukup aktif
Ø Suhu 36,8 c
Ø Nafas 50x /i
Ø Nadi 122x/i

Masalah :
ASIuntuk bayi

Dasar

Keluarga mengatakan ibu bayi sudah meninggal


Diagnosa potensial :
Terjadi komplikasi seperti hipotermi, ikterus, aspiksia dll
Kolaborasi dengan dokter anak dalam menghadapi permasalahan yang ada pada bayi dan dalam peresepan obat.
1. Beritahu keluarga tentang keadaan bayi berdasarkan hasil pemeriksaan










2. beri penjelasan Pada keluarga mengenai masalah yang dihadapi bayinya kini







3. hangatkan tubuh bayi di dalam incubator








4. beri bayi minum










5. beri terapi






6. jaga personal hygiene bayi





7. cegah terjadinya infeksi pada bayi monitor TTV










8. kolaborasi dengan dokter anak


1. memberitahukan keluarga mengenai keadaan bayinya saat ini bahwa keadaan anaknya sudah membaik.
Bayinya sudah cukup aktif
Nadi 122x/i
Suhu 36,8 c
Nafas 50x/i
Berat badan bayi masih kurang dari normal.
2.memberi panjelasan pada keluarga mengenai masalah yang dihadapi bayinya kini adalah BBLR yaitu berat badan lahir rendah. Hal ini jika tidak cepat di tangani akan dapat menimbulkan komplikasi.
3.menghangatkan tubuh bayi dalam incubator dengan suhu yang sudah di atur yaitu 35 c sesuai dengan suhu incubator berdasarkan berat badan dan umur.


4.Memberi bayi minum dengan ASI donor yang di antar oleh keluarga setiap waktu pemberian melalui sonde sesuai takaran yang ditentukan dan sesuai dengan waktunya.
5.memberi terapi obat- obatan pada bayi yaitu :
Ampisilin 2x25 gr
Gentamisin 1x 7gr
Apyalis 1x 0,3 cc
OMz 1x 0,6 cc
6.menjaga personal hygiene bayi dengan membersihkan dan mengganti pempers yang terkena BAB dab BAK
7.mencegah terjadi nya infeksi pada bayi dengan:
- Mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi
- Mmebatasi pengun jung masuk ke tempat bayi
- Memastikan ruang an bayi selalu bersih
Kolaborasi dengan dokter anak dan memonitor TTV bayi dengan meng ukur suhu, nadi, nafas


Keluarga terlihat agak senang mendengar perkembagan anaknya











Keluarga mengerti dengan penjelasan yang diberikan









Bayi sudah dihangat kan di dalam inkubator









Bayi sudah diberi minum









Obat-obatan sudah diberikan





Pempers ada diganti tiap BAB dan penuh tiap BAK




Pencegahan infeksi ada dilakukan











Pukul 18.00 WIB
Nadi: 121 x/mnt
Nafas: 50 x/mnt
Irama jantung teratur
Suhu : 36,5 oC
Sianosis tidak ada
Sesak tidak ada
Tanggal 31-11-2008
Pukul 14.00 WIB

Ds:
- Bayi tampak tenang
- Sesak nafas (-)
- Demam tidak ada
- Kejang (-)

Do:
- Keaan cukup aktif
- Nadi: 120 x/mnt
- Suhu : 37oC
- Nafas: 46 x/mnt
- Mata: tidak anemis, tidak ikterik
- Extremitas: akral hangat
- BB: 1100 gr



1. Beritahu keluarga tentang kedaan bayinya berdasarkan hasl pemeriksaan









2. Beritahu keluarga tentang masalah yang dihdapi bayinya











3. Beri bayi minum









4. Hangatkan tubuh bayi





5. Beri bayi terapi












6. Jaga personal Hygiene bayi








7. Cegah terjadinya infeksi pada bayi







8. Pantau TTV




9. Kolaborasi dengan dokter anak


1. Memberitahu kan keluarga mengenal keadaan bayinya saat ini bahwa anaknya sudah membaik dan cukup aktif
Nadi: 120 x/mnt
Suhu: 37oC
Nafas: 46 x/mnt
Bayi tidak sesak

2. Memberitahu keluarga tentang masalah yang dihadapi bayinya yaitu berat badan kurang dari berat badan lahir. Hal ini jika tidak ditangani akan dapat menimbulkan komplikasi

3. Memberikan ASI donor/ SF pada bayi melalui sonde sesuai akaran yang ditentukan dan sesuai dengan waktunya

4. Menghangatkan bayi di dalam inkubator dengan suhu yang sudah diatur

5. Memberikan terapi obat-obatan pada bayi

Ampisilin 2 x 25 gr
Gentamisin 1 x 7 gr
Apyalis 1 x 0,3 cc
OMZ 1 x 06 gr

6. Menjaga personal higiene bayi dnegan membersihkan dan mengganti pempers yang terkena BAB dan BAK


7. Mencegah terjadinya infeksi pada bayi dengan cara mencuci tangan sebelum dan sesudah memegang bayi

8. Memantau TTV bayi



9. Kolaborasi dengan dokter anak untuk pemantauan perkembangan anak dan dalam pemberian resep obat
Keluarga terlihat agak senang mendengar perkembangan anaknya










Keluarga mengerti dengan penjelasan yang diberikan












Bayi sudah diberi minum








Bayi sudah dihangat kan dibawah alat pemancar panas




Obat-obatan sudah diberikan











Pempers ada diganti tiap BAB dan penuh tiap BAK







Pencegahan infeksi ada dilakukan







Pukul 18.00 WIB
Suhu 36,7 o C
Nadi: 120 x/ mnt
Nafas 47 x/mnt

Kolaborasi dilakukan


BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
- BBLR adalah bayi baru lahir dengan BB lahir < 2500 gr
- Etiologinya berhubungan dengan kondisi sebagai berikut:
· Sosial ekonomi rendah
· Ras
· Usia
· Aktivitas
· Ibu menderita penyakit akut/ kronis
· Kehamilan multipel
· Kehamilan sebelumnya jelek
· Faktor-faktor kebidanan
· Faktor janin
· Kelahiran dini
- Etologinya ada 3 faktor yaitu
- Faktor ibu
- Lesi plasenta
- Faktor janin
- Komplikasi BBLR tergantung dari klasifikasi BBLR
- Pengelolaan BBLR meliputi 2 tahap yaitu
- Ante/ intrapartum
- Dikamar bersalin
- Pengelolaan dikamar bayi

3.2. Saran
Dengan adanya makalah tentang BBLR ini diharapkan pada petugas dapat menyesuaikan tindakan berdasarkan prinsip pengelolaan BBLR. Pada keluarga pasien setelah pulang ke rumah dapat memantau perkembangan bayinya, terutama penambahan berat badan bayinya.

mutu by tata

TUGAS MUTU PELAYANAN KEBIDANAN

KURANGNYA AKSES PELAYANAN PADA REMAJA (PELAYANAN YOUTH FRIENDLY) OLEH PETUGAS KESEHATAN




Oleh

Yunita Resmiza

06042590

PRODI DIII KEBIDANAN

POLITEKNIK KESEHATAN PADANG

2008/2009

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya pad penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “ Kurangnya Akses Pelayanan pada Remaja (Pelayanan Youth Friendly) oleh Tenaga Kesehatan.

Penulis merasa makalah ini masuh jauh dari kesempurnaan.Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Penulis berharap semoga makalah ini dapat dijadikan sebagai salah satu sumber bacaan yang bermanfaat dan dapat digunakan sebaik-baikny.

Padang, Januari 2009

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

1.2. Perumusan Masalah

1.3. Tujuan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Remaja

2.1.1. Pengertian

2.1.2. Transisi yang Dihadapi pada Masa Remaja

2.1.3. Faktor yang Menjadi Masalah pada Remaja

2.1.4. Kesehatan Remaja

2.2. Mutu Pelayanan Kesehatan

2.2.1. Pengertian

2.2.2. Dimensi Mutu

2.2.3. Prinsip Perbaikan Mutu

BAB III PEMBAHASAN

BAB IV PENUTUP

4.1. Kesimpulan

4.2. Saran

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Negara Indonesia merupakan salah satu negara berkembang, dan juga merupakan negara yang padat akan penduduknya. Penduduk dipelajari oleh ilmu kependudukan yang terdiri atas demografi dan studi kependudukan. Demografi sering pula di definisikan sebagai suatu studi kuantitatif dari lima proses demografi yaitu; fertilitas, mortalitas, perkawinan, migrasi dan morbilitas sosial. Beberapa indikator demografi yang sering kita temui diantaranya jumlah penduduk, komposisi penduduk menurut jenis kelamin, umur, suku bangsa, pendidikan, agama, pekerjaan, dan proses domografi yang mempengaruhi jumlah dan komposisi penduduk.

Sebagai suatu negara berkembang, Indonesia juga tidak luput dari masalah kependudukan. Secara garis besar masalah-masalah pokok di bidang kependudukan yang dihadapi Indonesia adalah jumlah penduduk yang besar dan laju pertumbuhan penduduk yang relatif masih tinggi, persebaran penduduk yang tidak merata, struktur umur muda, dan kualitas penduduk yang masih harus ditingkatkan.

Pada tahun 2005, 30% dari jumlah penduduk Indonesia adalah remaja. Remaja adalah kelompok penduduk yang berusia 10-19 tahun (menurut WHO dan DEPKES) atau kelompok penduduk yang berusia 10-24 tahun (menurut UNFPA) dan belum menikah. Sebagian remaja sudah mengalami pematangan organ reproduksi dan bisa berfungsi atau bereproduksi, namun secara sosial, mental, dan emosi mereka belum dewasa. Remaja akan mengalami banyak masalah apabila pendidikan dan pengasuhan seksualitas reproduksi mereka terabaikan.

Akibatnya banyak terjadi IMS, kehamilan dini, kehamilan yang tidak diinginklan, dan usaha aborsi yang tidak aman diantara mereka.

Fakta yang terbaru menyebutkan bahwa

· 15% remaja sudah melakukan hubungan seks diluar nikah.

· Jumlah penderita HIV-AIDS pada akhir tahun 2005 sebanyak 46,19% adalah jumlah remaja diman 43,5% terinfeksi melalui hubungan seks yang tidak aman dan 50% tertular lewat jarum suntik.

· 60% dari pekerja seks di Indonesia adalah remaja perempuan berusia 24 tahun atau dari 30%nya adalh mereka yang berumur 15 tahun atau kurang.

· 20% dari 2,3 juta kasus aborsi setiap tahun di Indonesia dilakukan oleh remaja dan mereka mendapatkan tindakan aborsi tidak aman serta menyebabkan komplikasi yang dapat membawa mereka pada kematian.

Hal ini terjadi disebabkan oleh beberapa aspek diantaranya informasi yang tepat tentang masalah seksual dan reproduksi bagi remaja sangat kurang dan akses pelayanan yang bersifat youth friendly juga tidak memadai, bahkan tidak ada. Kemudian kurangnya pengetahuan dan komitmen petugas kesehatan untuk menangani masalah remaja dan terbatasnya fasilitas, membuat remaja tidak pernah mendapat perlindungan dan pemeliharaan dengan tepat.

Berdasarkan uraian di atas penulis berminat untuk membuat makalah dengan judul “Kurangnya Akses Pelayanan pada Remaja (Pelayanan Youth Friendly) oleh Petugas Kesehatan”.

1.2. Perumusan Masalah

Bagaimana Kurangnya Akses Pelayanan pada Remaja (Pelayanan Youth Friendly) oleh Petugas Kesehatan.

1.3. Tujuan

Diketahui bagaimana Kurangnya Akses Pelayanan pada Remaja Pelayanan Youth Friendly) oleh Petugas Kesehatan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Remaja

2.1.1. Pengertian

Remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Di masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak - anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak - anak menuju dewasa (http://www.sciencedaily).

Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun (http://www.mediaindo.co.id/).

Remaja adalah individu, baik laki-laki maupun perempuan, yang sedang berada di tengah-tengah masa transisi dari anak­anak menuju dewasa. Menurut klasifikasi World Health Organization (WHO), kelompok umur ini berada pada usia antara 10 sampai 19 tahun.

(UNICEF) mengatakan bahwa orang muda adalah antara umur 15 dan 24 tahun (istilah “orang muda” merujuk kepada penggabungan kelompok umur 10-­24 tahun).

2.1.2. Transisi yang Dihadapi pada Masa Remaja

1. Transisi dalam Emosi

Ciri utama remaja adalah peningkatan kehidupan emosinya, dalam arti sangat peka, mudah tersinggung perasaannya. Remaja dikatakan berhasil melalui masa transisi emosi apabila ia berhasil mengendalikan diri dan mengekspresikan emosi sesuai dengan kelaziman pada lingkungan sosialnya tanpa mengabaikan keperluan dirinya.

2. Transisi dalam Sosialisasi

Pada masa remaja hal yang terpenting dalam proses sosialisasinya adalah hubungan dengan teman sebaya, baik dengan sejenis maupun lawan jenis.

3. Transisi dalam Agama

Sering terjadi remaja yang kurang rajin melaksanakan ibadah seperti pada masa kanak-kanak. Hal tersebut bukan karena melunturnya kepercayaan terhadap agama, tetapi timbul keraguan remaja terhadap agama yang dianutnya sebagai akibat perkembangan berfikirnya yang mulai kritis. .

4. Transisi dalam Hubungan Keluarga

Dalam satu keluarga yang terdapat anak remaja, sulit terjadi hubungan yang harmonis dalam keluarga tersebut. Keadaan ini disebabkan remaja yang banyak menentang orang tua dan biasanya cepat menjadi marah. Sedangkan orang tua biasanya kurang memahami ciri tersebut sebagai ciri yang wajar pada

5. Transisi dalam Moralitas

Pada masa remaja terjadi peralihan moralitas dari moralitas anak ke moralitas remaja yang meliputi perubahan sikap dan nilai-nilai yang mendasari pembentukan konsep moralnya. Sehingga sesuai dengan moralitas dewasa serta mampu mengendalikan tingkah lakunya sendiri.

2.1.3. Faktor yang Menjadi Masalah pada Remaja

1. Adanya perubahan-perubahan biologis dan psikologis yang sangat pesat pada masas remaja yang akan memberikan dorongan tertentu yang sifatnya sangat kompleks.

2. Orangtua dan pendidik kurang siap untuk memberikan informasi yang benar dan tepat waktu, karena ketidaktahuannya.

3. Perbaikan gizi yang menyebabkan menais menjadi lebih dini. Banyaknya kejadian kawin muda terutama didaerah pedesaan. Sebaiknya di kota, kesempatan untuk bersekolah dan bekerja menjadi lebih terbuka bagi wanita dan usia kawin makin bertambah. Kesenjangan antara menais dan umur kawin yang panjang, apalagi dalam suasana pergaulan yang makin bebas tidak jarang menimbulkan masalah bagi remaja.

4. Membaiknya sarana komunikasi dan transportasi akibat kemajuan teknologi menyebabkan membanjirkan arus informasi dari luar yang sulit sekali diseleksi.

5. Pembangunan kearah industrialisasi disertai dengan pertambahan penduduk menyebabkan maningkatnya urbanisasi, berkurangnya sumber daya alam dan terjadinya perubahan tata nilai. Ketimpangan sosial dan individualisme sering kali memicu terjadinya perubahan konflik perorangan maupun kelompok lapangan kerja yang kurang memadai dapat memberikan dampak yang kurang baik bagi remaja sehingga remaja akan menderita frustasi dan depresi yang akan menyebabkan mereka mengambil jalan pintas dengan tindakan yang bersifat negatif.

6. Kurangnya pemanfaatan penggunaan sarana untuk menyalurkan gejolak remaja. Perlu adanya penyaluran sebagai subtitusi yang bersifat positif kearah pengembangan keterampilan yang mengandung unsur kecepatan dan kekuatan, misalnya olahraga.

2.1.4. Kesehatan Remaja

a. Kesehatan Fisis

Sebab-sebab morbiditas utama dalam masa adolesen adalah akibat dari tingkah laku yang berbahaya yaitu :

Penggunaan bahan-bahan psikotropika, aktivitas seksual, dan kendaraan bermotor dengan akibat-akibat jangka pendek dan jangka panjang. Selain itu juga penyakit seperti akne yang merupakan masalah kulit yang paling mengganggu remaja dan ditemukan pada 80% remaja. Penyakit ini merupakan gangguan pada kelenjar pilosebaseus yang ditandai dengan sumbatan dan peradangan folikel. Akne berkaitan dengan masalah kebersihan kulit, pola makan, hormonal, psikologis, dan infeksi bakteri. Gangguan kesehatan lainnya yaitu gangguan pada mata yaitu miop dan cidera, gangguan pendengaran yaitu konduktif, sensorineural, dan bentuk campuran, dan karles dentis

b. Masalah Perilaku

ò Pemakaian narkotik dan zat aditif lain (NAZA) secara umum penggunaan NAZA pada remaja merupakan resiko untuk menggunakan substansi lain. Dimulai dengan merokok atau alkohol kemudian disusul dengan pemakaian mariyuana, kemudian obat-obat lainnya termasuk heroin, kokain, sedative, stimulant, dan lain-lain

ò Perilaku yang menyebabkan kecelakaan. Sebab utama kematian dalam masa remaja adalah cidera pada kecelakaan yang berkaitan dengan tingkah laku yang berbahaya, pembunuhan atau bunuh diri.

c. Aktifitas Seksual

V Hubungan Seksual Sebelum Menikah

Penelitian yang dilakukan oleh Puslit Ekologi Kesehatan Badan Litbang Kesehatan Depkes RI Tahun 1990 terhadap siswa-siswa SMA di Jakarta dan Yogyakarta menyebutkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi remaja untuk melakukan hubungan seks pranikah adalah membaca buku porno dan menonton blue film.

V Kaum Muda

Usia wanita saat perkawinan pertama dapat mempengaruhi resiko kelahiran. Semakin muda usia saat perkawinan pertama semakin besar resiko yang dihadapi bagi keselamatan ibu maupun anak.

V Penyakit Menular Seksual.

Prevalensi PMS mencapai puncaknya pada masa remaja akhir dan awal dewasa, kemudian menurun dengan cepat dengan semakin bertambahnya umur. Pada remaja pria kasus terbanyak adalah uretritis gonore dan wanita adalah bacterial vaginosis.

2.2. Mutu Pelayanan Kesehatan

2.2.1. Pengertian

£ Mutu adalah kecocokan penggunaan produk (fitnes for use) untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan (juran). Kecocokan penggunaan tersebut didasarkan atas lima ciri utama; teknologi (kekuatan dan daya tahan), psikologis (citra rasa atau status), waktu (kehandalan), kontraktual (adanya jaminan), dan etika (sopan santun, ramah, atau jujur).

£ Mutu adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia atau tenaga kerja, proses dantugas, serta lingkungan yang memenuhi atau memenuhi atau melebihi harapan pelanggan atau konsumen.

£ Mutu pelayanan kesehata adalah pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kesehatan yang sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk, serta penyelenggaraannya sesuai dengan standar dan kode etik profesi yang telah ditetapkan (Azrul Azwar).

2.2.2. Dimensi Mutu Pelayanan Kesehatan Menurut Azrul Azwar

1. Kompetensi Teknik (Technical Competence)

Keterampilan, kemampuan, dan penampilan petugas, manajer, dan staf pendukung. Kompetensi teknis berhubungan dengan bagaimana cara petugas mengikuti standar pelayanan yang telah di tetapkan.

2. Akses Terhadap Pelayanan (Accessibility)

Tidak terhalang oleh keadaan geografis, sosial ekonomi, budaya, organisasi, atau hambatan bahasa.

a. Geografis, dapat di ukur dengan jenis trnsportasi, jarak, waktu, dan perjalanan.

b. Akses ekonomi, berkaitan dengan kemampuan memberikan pelayanan kesehatan yang pembiayaannya terjangkau pasien.

c. Akses sosial atau budaya, berkaitan dengan diterimanya pelayanan yang dikaitkan dengan nilai budaya, kepercayaan dan perilaku.

d. Akses organisasi, berkaitan dengan sejauh mana pelayanan di atur untuk kenyamanan pasien, jam kerja klinis, waktu tunggu.

e. Aksese bahasa, pelayanan diberikan dalam bahasa atau dialek setempat yang dipahami pasien.

3. Efektifitas (Effectiveness)

Kualitas pelayanan kesehatan tergantung dari efektifitas yang menyangkut norma pelayanan kesehatan dan petunjuk klinis sesuai dengan standar yang ada.

4. Hubungan Antar Manusia (Interpersonal Relation)

Berkaitan dengan interaksi antara petugas kesehatan dengan pasien, manjer dan petugas, dan antara tim kesehatan dengan masyarakat.

5. Efisiensi (Efficiency)

Pelayanan yang efisien akan memberikan perhatian yang optimal daripada memaksimalkan pelayanan kepada pasien dan masyarakat. Petugas akan memberikan pelayanan yang terbaik dengan sumber daya yang dimiliki.

6. Kelangsungan Pelayanan (Continuity)

Pasien akan menerima pelayanan yang lengkap yang dibutuhkan termasuk rujukan tanpa interupsi, berhenti atau mengulangi prosedur, diagnosa dan terapi yang tidak perlu.

7. Keamanan (Safety)

Mengurangi resiko cedera, infeksi, efek samping, atau bahaya lain yang berkaitan dengan pelayanan.

8. Kenyamanan (Amnieties)

Berkaitan dengan pelyanan kesehatan yang tidak berhubungan langsung dengan efektifitas klinis, tetapi dapat mempengaruhi kepuasan pasien dan bersedianya untuk kembali ke fasilitas kesehatan untuk memperoleh pelayanan berikutnya.

2.2.3. Prinsip Perbaikan Mutu

1. Keinginan untuk Berubah

· Tidak hanya menemukan praktek yang tidak benar

· Nyatakan secara terbuka keingina untuk bekerja dalam kemitraan untuk meningkatkan hasil pelayanan.

2. Mendefinisikan Kualitas

Kemampuan pelayanan yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.

3. Mengukur Kualitas

· Menggunakan metode statistik yang tepat untuk menafsirkan hasil pengukuran.

· Perlu informasi atas proses, kebutuhan pelanggan, dan kualitas penyedia.

4. Memahami Saling Ketergantungan

Fragmentasi tanggung jawab akan menimbulkan suboptimaze “saya bekerja dengan baik yang lain tidak”.

5. Memahami Sistem

Kesalahan yang terjadi disebabkan oleh sistem (85%) dan manusia (15%).

6. Investasi dalam Belajar

Seluruh pakar menekankan pentingnya pelatihan atau pembelajaran. Mencari penyebab lalu mendapatkan pengalaman untuk perbaikan.

7. Mengurangi Biaya

Mengurangi kerja sia-sia, duplikasi, komplrksitas yang tak perlu.

8. Komitmen Pemimpin

Menunjukkan segala sesuatu baik itu dengan kata-kata maupun perbuatan atas komitmen yang telah ditetapkan terutama untuk mutu.

BAB III

PEMBAHASAN

Remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Di masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak - anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak - anak menuju dewasa (http://www.sciencedaily). Sebagian remaja sudah mengalami pematangan organ reproduksi dan bisa berfungsi atau bereproduksi, namun secara sosial, mental, dan emosi mereka belum dewasa. Remaja akan mengalami banyak masalah apabila pendidikan dan pengasuhan seksualitas reproduksi mereka terabaikan.

Akibatnya banyak terjadi IMS, kehamilan dini, kehamilan yang tidak diinginklan, dan usaha aborsi yang tidak aman diantara mereka. Remaja merupakan kelompok marginal dan kesalahan yang mereka lakukan dianggap aib oleh masyarakat sehingga persoalan reproduksi remaja di Indonesia tidak diperhitungkan oleh pembuat kebijakan.

Hal ini juga disebabkan oleh beberapa aspek diantaranya informasi yang tepat tentang masalah seksual dan reproduksi bagi remaja sangat kurang dan akses pelayanan yang bersifat youth friendly juga tidak memadai, bahkan tidak ada. Kemudian kurangnya pengetahuan dan komitmen petugas kesehatan untuk menangani masalah remaja dan terbatasnya fasilitas, membuat remaja tidak pernah mendapat perlindungan dan pemeliharaan dengan tepat.

Dari hal di atas dapat dilihat dimana salah satu atau beberapa dimensi mutu pelayanan kesehatan tidak berjalan dengan baik. Maka disini dimensi pelayanan kesehatan yang disorot yaitu mengenai dimensi efisien dan kenyamanan. Dimana kurang efisiennya kinerja tenaga kesehatan dalam menangani masalah remaja, kemudian berkaitan dengan pelayanan kesehatan yang tidak berhubungan langsung dengan efektifitas klinis yang dapat mempengaruhi kepuasan pasien (remaja), sehingga remaja tidak bersedia lagi untuk kembali ke fasilitas kesehatan untuk memperoleh pelayanan berikutnya.

Untuk itu disini perlu adanya peran dari pengambil kebijakan dan petugas kesehatan dalam menangani masalah ini, diantaranya :

V Perlu dikaji ulang bagaimana peraturan maupun undang-undang yang ada (UU No. 23 Tentang Kesehatan, UU No. 10 Tentang Kependidikan dan isi KUHP), aspek sosial, adat, dan budaya masyarakat yang pada banyak hal akan menghambat pemberian pelayan pada remaja.

V Petugas kesehatan baik pemerintah, swasta, dan LSM yang punya komitmen terhadap kesehatan remaja, perlu memahami bahasa dan perilaku remaja agar dapat memberikan pelayanan yang tepat sesuai dengan karakteristik dan keinginan remaja.

V Pelayanan konseling juga diperlukan sebelum memberikan pelayanan kepada remaja, agar hak mereka untuk mendapatkan informasi dan pelayanan dapat terpenuhi, yang pada akhirnya remaja dapat terhindar dari IMS, HIV-AIDS, kehamilan tidak di inginkan dan usaha aborsi tidak aman. Pemberian pelayanan ini sebaiknya juga diberikan dala satu paket dengan pendidikan kespro bagi remaja.

BAB IV

KESIMPULAN

4.1. Kesimpulan

a. Remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Di masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak - anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak - anak menuju dewasa (http://www.sciencedaily).

b. Remaja akan mengalami banyak masalah apabila pendidikan dan pengasuhan seksualitas reproduksi mereka terabaikan. Akibatnya banyak terjadi IMS, kehamilan dini, kehamilan yang tidak diinginklan, dan usaha aborsi yang tidak aman diantara mereka.

c. Mutu pelayanan kesehatan adalah pelayanan kesehatan yang dapat memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kesehatan yang sesuai dengan tingkat kepuasan rata-rata penduduk, serta penyelenggaraannya sesuai dengan standar dan kode etik profesi yang telah ditetapkan (Azrul Azwar).

d. Hal ini terjadi disebabkan oleh beberapa aspek diantaranya informasi yang tepat tentang masalah seksual dan reproduksi bagi remaja sangat kurang dan akses pelayanan yang bersifat youth friendly juga tidak memadai, bahkan tidak ada. Kemudian kurangnya pengetahuan dan komitmen petugas kesehatan untuk menangani masalah remaja dan terbatasnya fasilitas, membuat remaja tidak pernah mendapat perlindungan dan pemeliharaan dengan tepat.

e. Untuk itu disini perlu adanya peran dari pengambil kebijakan dan petugas kesehatan dalam menangani masalah ini, diantaranya :

V Perlu dikaji ulang bagaimana peraturan maupun undang-undang yang ada, aspek sosial, adat, dan budaya masyarakat yang pada banyak hal akan menghambat pemberian pelayan pada remaja.

V Petugas kesehatan baik pemerintah, swasta, dan LSM yang punya komitmen terhadap kesehatan remaja, memahami bahasa dan perilaku remaja agar dapat memberikan pelayanan yang tepat sesuai dengan karakteristik dan keinginan remaja.

V Pelayanan konseling sebelum memberikan pelayanan kepada remaja, agar hak mereka untuk mendapatkan informasi dan pelayanan dapat terpenuhi, yang pada akhirnya nanti remaja dapat terhindar dari IMS, HIV-AIDS, kehamilan tidak di inginkan dan usaha aborsi tidak aman. Pemberian pelayanan ini sebaiknya juga diberikan dala satu paket dengan pendidikan kespro bagi remaja.

4.2. Saran

Diharapkan kepada pembaca agar dapat memahami bagaimana Kurangnya Akses Pelayanan pada Remaja (Pelayanan Youth Friendly) oleh Petugas Kesehatan.

DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo, Sarwono. 2005

Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustak

Bari Syaifuddin, dkk. 2006

Panduan Praktis Pelayanan Kotrasepsi. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

Supriadi. 2004

Kespro Modul Siswi. Jakarta : Yayasan Pendidikan Kesehatan Perempuan

Jurnal : Kohler PK, Manhart LE, Lafferty WE. 2008

Abstinence-only and comprehensive sex education and the initiation of sexual activity and teen pregnancy. J Adolesc Health 42(4)

Wijono, Djoko Haji.2000

Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan. Surabaya : Airlangga University Press

http://www..sciencedaily

http://www.prabu.wordpress.com

http://www.mediaindo.co.id/

Minggu, 08 Februari 2009

kanker ovarium oleh Fenny Febrizal (06042553)

TUGAS MULOK V

KANKER OVARIUM




OLEH:

FENNY FEBRIZAL

06042553

POLITEKNIK KESEHATAN DEPKES PADANG

PRODI D-III KEBIDANAN

TAHUN 2009

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karuniaNYA sehingga penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah yang berjudul “ Kanker Indung Telur dan Pengobatannya “. Pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah mulok V.

Atas dorongan dan bimbingannya serta semua pihak yang ikut berperan dalam penyusunan makalah ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.

Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan yang lebih baik di kemudian hari.

Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Padang, Februari 2009

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Unsur terkecil dari jaringan tubuh ialah sel yang berfungsi membentuk tubuh dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak. Dalam perkembangannya, sel yang normal akan membelah diri secara teratur dan terkendali. Tetapi tidak demikian pada pembelahan sel kanker ia tidak bisa dikendalikan dan tumbuh berlipat ganda secara cepat dan terus menerus yang dapat menjadi suatu bentuk yang mendesak, serta merusak jaringan tubuh yang normal, sehingga mengganggu fungsi organ yang jaringannya dirusak oleh sel kanker tadi. Akibatnya tentu saja bisa merusak organ tubuh disekitarnya.

Kanker adalah penyakit yang dapat menyerang siapapun baik wanita maupun pria serta dapat menyerang pada semua golongan umur. Menurut catatan data di Indonesia, kaum wanita paling banyak menderita kanker yaitu kanker alat reproduksi meliputi rahim,leher rahim, dan ovarium ( indung telur ) yang umumnya selalu berakhir dengan kematian.Pada tahun 1983,menurut catatan The American Cancer Institute memperkirakan ada sekitar 18.000 kasus baru penyakit kanker, 12.000 diantaranya meninggal karena kanker ovarium.

Apabila sel kanker telah menyebar ke saluran telur serta rahim, maka pengobatannya akan jauh lebih sulit dan tidak efektif lagi. Sebanyak 70-80% penderita yang sudah stadium lanjut, paling lama dapat bertahan hidup sampai 5 tahun saja. Meskipun jenis kanker ini kurang dikenal, karena hanya menyerang 1 diantara 70 wanita penderita kanker, atau kira-kira hanya 1% dari penyakit kanker jenis lain yang menyerang wanita namun daya mautnya juga mengerikan.

Oleh karena itu, untuk mengetahui lebih banyak tentang kanker ovarium maka dalam kesempatan ini penulis akan membahasnya dalam makalah ini.

1.2 Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dan tujuan dari pembuatan makalah ini adalah

  1. Memenuhi tugas mata kuliah Kesehatan Reproduksi.
  2. Mengetahui tentang kanker ovarium beserta gejalanya.
  3. Mengetahui siapa saja serta faktor yang berperan besar terkena kanker ovarium.
  4. Mengetahui pengobatan yang dapat dilakukan terhadap penyakit ini.

1.3 Perumusan Masalah

  1. Pengertian kanker ovarium dan gejalanya.
  2. Siapa saja serta faktor yang berperan besar memiliki kemungkinan terkena kanker ovarium.
  3. Pengobatan yang dapat dilakukan terhadap penyakit ini.

.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Mengenali Kanker Ovarium

Kanker ovarium atau indung telur mendapat julukan “ The Silent Lady Killer “ atau pembunuh wanita diam- diam, karena julukan ini menyiratkan sifat kanker ovarium yang sulit dideteksi pada stadium dini. Karena biasanya tanpa gejala sama sekali. Pertumbuhannya sangat lambat dan biasanya kalau keluhan timbul sudah terdapat benjolan.

Wanita yang beresiko terkena kanker indung telur atau ovarium biasanya berhubungan dengan kanker payudara. Ada hubungan keluarga sehingga disebut sindroma kanker payudara. Meski faktor keturunan berperan dalam terjadinya kanker ovarium, wanita yang tidak memiliki keluarga penderita kanker ovarium dapat pula terkena penyakit kanker ini. Selain faktor keturunan, penyebab pasti kanker ovarium belum diketahui sampai saat ini.

Siapa yang beresiko, beberapa literature menyebutkan kanker ovarium dapat menyerang wanita usia muda hingga tua. Kasus penderita kanker ovarium termuda yang ditemui berusia 8 tahun. Jadi, kanker ovarium ini tidak pandang usia. Wanita yang beresiko menderita kanker ovarium biasanya wanita yang mengalami kesulitan memiliki anak, wanita yang tidak memiliki anak dan wanita yang mendapat pemicu ovulasi ( terapi hormone ).

Jika ditemukan suatu kantung tidak biasa di ovarium bukan berarti langsumg divonis menderita kanker ovarium. Ada jenis kista di ovarium yang berkaitan dengan siklus haid yang dikenal dengan nama kista fungsional yang dapat menyusut dengan sendirinya dalam waktu 1-3 bulan karena hanya berisi cairan. Kista ganas yang mengarah ke kanker biasanya bersekat-sekat dan dinding sel tebal dan tidak teratur. Tidak seperti kista fungsional yang hanya terisi cairan, kista abnormal memperlihatkan campuran cairan dan jaringan solid dan dapat bersifat ganas.

Adanya kanker pada daerah indung telur akan menggangu kesuburan. Kanker yang sudah memasuki stadium lanjut, dapat menyerang organ- organ tubuh lainnya seperti usus ( yang paling sering ) dan paru- paru. Resiko kematian akan semakin besar. Keterlambatan mendiagnosis kanker ovarium sering terjadi karena letak ovarium berada di dalam rongga panggul sehingga tidak terlihat dari luar.

2.2 Gejala Kanker Ovarium

Adapun gejala- gejala yang dirasakan jika terkena kanker ovarium biasanya adalah :

1. Adanya pembesaran perut karena terdapat penggumpalan cairan di dalam perut.

2. Gangguan menstruasi terjadi ketika tumor menyerang hormone.

3. Rasa sakit di perut dan terjadi pendarahan cukup banyak ketika menstruasi.

4. Kadang perut terasa begah, kembung , dan tidak nyaman.

Bila stadium lanjut , maka gejalanya :

  1. Terasa ada benjolan di perut ketika diraba.
  2. Nyeri panggul.
  3. Gangguan buang air besar atau buang air kecil akibat penekanan pada saluran pencernaan dan saluran kencing.
  4. Penderita dapat mengalami penimbunan cairan di rongga perut sampai mengalir ke rongga dada.
  5. Perut tempat semakin membuncit dan bisa juga sampai terjadi sesak nafas.

2.3 Siapa Saja Yang Beresiko Terkena Kanker Ovarium

Faktor- faktor yang berperan besar dalam menentukannya apakah seseorang memiliki kemungkinan terkena kanker ovarium atau tidak :

a. Usia : Resiko anda naik seiring dengan bertambahnya usia.

b. Kehamilan : Jika anda tidak pernah hamil, maka anda beresiko lebih tinggi terkena kanker ovarium.

c. Kontrasepsi oral : Wanita yang menggunakan pil KB memilikin resiko lebih kecil. Dengan meminum pil KB lebih dari 5 tahun juga mengurangi resiko terkena kanker ovarium sampai 50%.

d. Riwayat Keluarga : Resiko terkena kanker ovarium akan bertambah besar apabila ibu atau saudara perempuan sedang atau pernah menderita penyakit ini.

e. Penyakit Lain : Setiap penyakit yang mempengaruhi lapisan-lapisan sel di permukaan usus, akan meningkatkan resiko terhadap serangan kanker ovarium. Suatu kerusakan genetic yang disebut sindroma Peutz-Jegher dimana banyak polip tumbuh dalam usus kecil, meningkatkan resiko terkena kanker indung telur sebanyak 5 sampai 10x lipat.

2.4 Fakta-fakta Yang Terjadi Berhubungan Dengan Kanker Ovarium

  1. Satu dari 70 wanita terkena kanker ovarium.
  2. Kanker ovarium paling sering muncul pada wanita berusia 50-60 tahun.
  3. Semakin banyak wanita yang mati karena kanker ovarium,dibandingkan penyebab ginekologis lain.
  4. Kanker ovarium merupakan penyebab kematian ke-4 pada wanita setelah kanker paru-paru,payudara, dan leher rahim.
  5. Hanya sekitar 25% kanker ovarium yang terdiagnosa sejak dini.

2.5 Faktor-faktor Yang Dapat Mengurangi Resiko Kanker

  • Gaya Hidup Sehat.

Istirahat yang cukup, rekreasi, olahraga yang teratur, jauhi perilaku seksual yang menyimpang dan tidak normal serta berganti pasangan seks karena kebiasaan ini bisa memicu virus kanker genitalia serta penyakit seksual menular lainnya.

  • Menjaga kebersihan lingkungan.
  • Hanya mengkonsumsi makanan sehat.

Jauhilah makanan berlemak dan banyaklah mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan segar. Hindari bahan makanan yang diasap, diasin, dan diawetkan.

  • Memperhatikan kesehatan pribadi.
  • Meminimalkan bahan kimia dan obat-obatan.
  • Hindari merokok.

2.6 Tindakan Pemeriksaan dan Pengobatan Yang Dapat Dilakukan

a. Pemeriksaan :

· Dengan tes darah

· Pemeriksaan rongga panggul,kemudian dilanjutkan dengan USG, CT Scan atau MRI ( magnetic resonance imaging ). Prosedur pemeriksaan ini akan menghasilkan gambar dalam perut untuk mengidentifikasi adanya jenis sel yang tidak normal.

· Laparatomi dan Laparaskopi

Pemeriksaan laparatomi, akan dibuat suatu torehan pada perut untuk mengambil sejumlah kecil jaringan untuk dianalisa yang disebut biopsy. Ini merupakan satu-satunya cara untuk menentukan apakah tumor itu ganas atau tidak.

Wanita yang berusia 30-35 tahun, lebih cocok untuk menjalani laparoskopi. Metode ini menggunakan insisi kecil ke dalam perut dan melakukan biopsy dengan menggunakan alat yang disebut laparoskop.

· Protein CA-125

Pemeriksaan secara periodic terhadap unsure mirip protein darah disebut CA-125. Pada kanker ovarium,indung telur akan melepaskan protein abnormalnya ke dalam darah dan CA-125 akan membantu mengidentifikasi tumor ini. Tes dengan CA-125 memang tidak cukup sensitive untuk memantau kanker ovarium, namun bagi yang sudah mengidap maka peningkatan CA-125 biasanya menandakan adanya kanker yang sudah lanjut.

  1. Pengobatan
    • Operasi

Apabila pasien memang tidak ingin punya anak lagi maka dokteer akan mengangkat kedua ovarium, tuba falopii, rahim, kelenjar getah bening disekitarnya dan omentum. Dokter juga akan mengambil contoh jaringan dan cairan dari perut guna diperiksa apakah mengandung sel-sel kanker. Tujuan bedah ini ialah mengangkat semaksimal mungkin sel-sel kanker yang ada.

    • Kemoterapi

Apabila kanker masih terbatas di indung telur saja, maka pembedahan dapat mengangkat seluruh sel-selnya namun jika kanker sudah pada stadium lanjut dan menyebar ke bagian lain dari tubuh, bagaimanapun pembedahan tidak mampu mengangkat seluruh sel kanker. Untuk kondisi yang demikian,dokter akan memberikan obat-obatan anti kanker (kemoterapi) guna menumpas sel-sel kanker yang masih tertinggal.

Untungnya , dibandingkan dengan kanker jenis lain maka kanker ovarium lebih cepat lenyap oleh kemoterapi dan kecuali itu obat-obatan anti kanker mampu memberikan ketahanan hidup sekitar 5 tahun kepda 20-30% pasien wanita pengidap kanker ovarium stadium lanjut.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kanker alat reproduksi merupakan kanker yang paling banyak diderita kaum wanita, salah satunya adalah kanker indung telur (ovarium). Kanker ini mendapat julukan”The Silent Lady Killer” yaitu pembunuh wanita diam-diam karena sifat kanker ini sulit dideteksi pada stadium dini karena biasanya tanpa gejala sama sekali. Keluhan timbul dan mulai dirasakan penderita biasanya kalau sudah memasuki stadium lanjut dan sudah terdapat benjolan. Faktor yang berperan besar dalam menentukan seseorang terkena kanker salah satunya adalah usia. Semakin bertambahnya usia maka resiko unttuk terkena juga semakin besar. Banyak faktor yang dapat mengurangi resiko kanker diantaranya adalah dengan menjalani gaya hidup sehat serta memperhatikan kesehatan pribadi.Tindakan pemeriksaan dan pengobatan yang dapat dilakukan diantaranya adalah tes darah, laparaskopi dan laparatomi. Dan tindakan pengobatannya adalah dengan cara operasi dan kemoterapi.

3.2 Saran

Pada kesempatan ini, kepada semua pihak diharapkan dapat menjadi pelopor untuk diri sendiri dalam berperilaku sehat dalam reproduksi, serta menjadi penggerak bagi pencegahan yang menyeluruh terhadap bahaya kanker alat reproduksi perempuan. Dan bagi yang sudah memiliki pengetahuan awal tentang kanker alat reproduksi perempuan khususnya Bidan dapat menjadi komunikator yang baik untuk memberikan informasi, pengalaman dan pemahaman yang seksama dalam mencegah lingkungan masyarakat sekitar dan diri sendiri dari perilaku reproduksi yang tidak sehat khususnya dari bahaya kanker indung telur (ovarium).

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, Arif. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius

Prawirohardjo,Sarwono, 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

Winkjosastro,Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

Mansjoer, Arif. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius

Sabtu, 07 Februari 2009

MUTU PELAYANAN KESEHATAN DI PUSKESMAS OLEH RIRINE APRINANDA (06042577)

MAKALAH

“ MASALAH KURANGNYA MUTU LAYANAN PUSKESMAS DITINJAU DARI SARANA, PETUGAS PEMBERI PELAYANAN, SERTA PROGRAM DINKES MELALUI PUSKESMAS BERUPA UPAYA PENANGGULANGAN GIZI BURUK DAN ASURANSI KESEHATAN “

Oleh:

RIRINE APRINANDA

NIM: 06042577

Pembimbing:

ERAVIANTI, S. SiT. MKM

DEPARTEMEN KESEHATAN RI

POLITEKNIK KESEHATAN PADANG

PROGRAM STUDI D III KEBIDANAN PADANG

TAHUN 2009

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Karunia-Nya, sehingga dengan kekuatan pikiran dan keterbukaan hati penulis dapat menyelesaikan makalah mengenai masalah mutu pelayanan kesehatan dengan topik “ Masalah Kurangnya Mutu Pelayanan Kesehatan yang Ditinjau dari sarana , petugas pemberi layanan, serta Program Dinkes melalui Puskesmas berupa Penanggulangan Gizi Buruk dan Asuransi Kesehatan “ sebagai tugas akhir semester ganjil mata Kuliah Mutu Pelayanan Kesehatan Program Studi D III Kebidanan Padang Politeknik Kesehatan Padang.

Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Eravianti, S. SiT. MKM sebagai dosen mata kuliah Mutu Pelayanan Kesehatan yang telah banyak membimbing penulis dalam penulisan makalah ini selanjutnya kepada teman-teman tingkat III A Program Studi Kebidanan Padang Poltekkes Padang sebagai rekan diskusi dan telah banyak memberi masukan kepada penulis dalam penulisan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritikan dan saran yang sifatnya membangun untuk kelengkapan tulisan ini kedepan agar dapat berguna bagi kita semua.

Padang, 24 Januari 2009

RIRINE APRINANDA

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Rumusan Masalah

1.3 Tujuan

1.4 Manfaat

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1 Mutu Pelayanan

2.1.1 Mutu

2.1.1.1 Pengertian Mutu

2.1.1.2 Perbedaan defenisi Mutu

2.1.1.3 Alasan Pentingnya Mutu

2.1.2 Mutu Pelayanan Kesehatan

2.1.2.1 Pengertian Mutu Pelayanan Kesehatan

2.1.2.2 Arti Mutu Pelayanan Kesehatan dari beberapa sudut pandang

2.1.2.3 Proses Pelayanan Kesehatan

2.1.2.4 Pandangan Pasien Terhadap Mutu Klinik

2.1.2.5 Pandangan provider Terhadap Mutu Klinik

2.1.2.6 Mutu Pelayanan

2.2 Trilogi Juran

2.2.1 Perencanaan Mutu

2.2.2 Pengendalian Mutu

2.2.3 Peningkatan Mutu

2.3 Manajemen Mutu

2.3.1 Manejemen Mutu Philip B. Crosby

2.4 Manajemen Mutu Deming

2.5 Manajemen atai 14 Anjuran Deming

2.6 Faktor-faktor Fundamental yang mempengaruhi Mutu 9M

2.7 Jenis-jenis mutu menurut tempatnya

2.8 Klasifikasi mutu dalam Product Life Cycle

2.9 Proses Kendali Mutu

2.10 Kepuasan pelanggan

2.10.1 Pengertian Pelanggan

2.10.2 Mengukur Kepuasan Pelanggan

2.10.3 Produk dan Kepuasan Pelanggan

2.10.4 Mutu Berdasarkan Kepuasan Pelanggan

2.11 Dimensi Mutu

BAB III TINJAUAN KASUS

3.1 “Dinkes melalui Puskesmas, Gagal Tangani Gizi Buruk”

3.2 “Layanan Puskesmas di Surabaya Masih Buruk”

3.3 “Puskesmas – Posyandu Kekurangan Makanan Tambahan Untuk Bayi Kurang Gizi”

3.4 “Bali Perlu Infestasi Khusus di Bidang Kesehatan Demi Pelayanan Puskesmas yang Prima”

BAB IV PEMBAHASAN

BAB V PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Masalah besar Kesehatan kita menurut Handrawan Nadesul seperti yang beliau tulis dalam pendapat di Koran Tempo 20 November 2008, timbul karena rakyat di kampong dan pedesaan yang hidupnya belum sehat. Ia mencontohkan Bangladesh yang mampu mendongkrak kesehatan rakyatnya melebihi Indonesia meski anggaran yang disediakan sangat minim.

Pelayanan kesehatan yang memadai merupakan tumpuan masyarakat. Pelayanan kesehatan adalah salah satu kebutuhan mendasar selain pangan dan juga pendidikan. Pelayanan kesehatan bukan salah monopoli rumah sakit saja. Penduduk Indonesia yang jumlahnya melebihi 200 juta jiwa tidak mungkin harus bergantung dari rumah sakit yan umlahnya sedikit dan tidak merata penyebarannya.

Pelayanan kesehatan yang bermutu masih jauh dari harapan masyarakat, serta berkembangnya kesadaran akan pentingnya mutu, maka UU Kesehatan Nomor 23 tahun 1992 menekankan pentingnya upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan, khususnya ditingkat Puskesmas.

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat, dengan peran serta aktif masyarakat dan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, dengan biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat. Upaya kesehatan tesebut diselenggarakan dengan menitikberatkan kepada pelayanan untuk masyarakat luas guna mencapai derajat kesehatan yang optimal, tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada perorangan. Pengelolaan puskesmas biasanya berada di bawah Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota.

Saat ini, pudarnya Ujung Tombak Pelayanan Kesehatan, demikian halnya Puskesmas menjadi hal yang sangan disayangkan dibandingkan pada tahun 1980-an dimana pusat Pelayanan Kesehatan terlihat sangat ramai dikunjungi pasien yang hendak berobat, yang kini fenomena itu jarang terjadi. Sebagai pusat pelayanan kesehatan masyarakat, mestinya puskesmas dapat menjadi tempat rujukan pertama dengan pelayanan prima yang dapat menangani berbagai masalah kesehatan yang terjadi pada masyarakat, dan yang lebih fatal dimana petugas puskesmas tidak begitu tanggap dengan pelayanan medik, tetapi lebih menekankan administrasi.

Banyak masalah yang menjadi pemicu rendahnya pencitraan puskesmas pada saat sekarang. Sarana yang tidak lengkap seperti obat-obatan yang kurang bermutu dari segi variasi, petugas yang kurang tanggap dengan pasien, keramahan yang kurang dari pemberi layanan, sehingga masyarakat kurang puas setiap berobat ke pusat pelayanan kesehatan ini. Disamping itu program puskesmas yang kurang berjalan menjadi pemicu rendahnya mutu pelayanan puskesmas di mata masyarakat.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan hal sudah dikemukakan diatas, maka kita akan melihat apakah benar puskesmas menjadi sarana kesehatan yang tidak bermutu lagi dimasyarakat. Dalam hal ini, puskesmas dibawah tanggung jawab Dinas Kesehatan menjadi ujung tombak pelayanan masyarakat, mulai dari preventif, kuratif, promotif dan rehabilitatif. Program Dinkes yang telah ada tidah sepenuhnya berjalan dengan lancar, dapat dilihat dari masih adanya masalah kesehatan yang ditemui dalam masyarakat, misalnya ditemukan wabah gizi buruk pada balita dibeberapa tempat di Indonesia. Hal ini tidak bisa sepenuhnya diserahkan pertanggungjawaban dari pihak puskesmas setempat. Mungkin saja dikarenakan peran serta masyarakat yang kurang terhadap lingkungan, dalam hal ini para ibu yang tidak memperhatikan gizi anaknya mulai dari lahir sampai dewasa.

Konsep puskesmas seharusnya menjemput bola. Perannya bukan hanya seperti rumah sakit yang menunggu pasien berkunjung. Untuk daerah terpencil yang sulit dijangkau, puskesmas hatus mendekat ke masyarakat agar mereka tidak terlanjur sakit. Bila masyarakat tidak dibina, dari 4 program puskesmas yang harus ada, mereka rentan jatuh sakit, sehingga puskesmas akan dinilai gagal karena pasien yang akan berobat akan semakin banyak, dan yang lebih parah apabila mereka mengeluh dengan penyakit yang itu-itu saja.

1.3 Tujuan

Adapun tujuan dari pembahasan masalah mengenai rendahnya mutu pelayanan puskesmas ini adalah apakah benar momok yang beredar di masyarakat tentang pencitraan puskesmas yang rendah. Dilihat dari berbagai segi, apa saja yang menyebabkan masalah ini terjadi, dari pihak Dinas kesehatan sebagai penanggung jawab, puskesmas sebagai pelaksana, dan masyarakat sebagai penunjang pelayanan kesehatan.

1.4 Manfaat

1.4.1 Bagi Penulis

Untuk mengembangkan berbagai disiplin ilmu yang diperoleh di pendidikan

1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan

Dapat dijadikan sebagai bahan bagi mahasiswa lainnya mengenai mutu pelayanan kesehatan khususnya mengenai kontrasepsi (KB)

1.4.3 Bagi Instansi Kesehatan

Dapat dijadikan dasar untuk penelitian selanjutnya.

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 MUTU PELAYANAN

2.1.1 MUTU

2.1.1.1 Pengertian Mutu

ü Mutu adalah suatu keputusan yang berhubungan denga proses pelayanan, yang berdasarkan tngkat dimana pelayanan memberikan kontribusi terhadap nilai outcomes.

ü Mutu adalah kecocokan penggunaan produk (Fitness for use), untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Kecocokan dari penggunaan tersebut didasarkan atas 5 ciri utama, yaitu:

§ Teknologi : kekuatan dan daya tahan

§ Psikologis : citra rasa atau status

§ Waktu : kehandalan

§ Kontraktual : adanya jaminan

§ Etika : sopan santun, ramah atau jujur

(Juran)

ü Mutu produk dan jasa adalah seluruh gabungan sifat-sifat produk atau jasa pelayanan dari pemasaran, engineering, manufaktur, dan pemeliharaan di mana produk atau jasa pelayanan dalam penggunaannya akan bertemu dengan harapan pelanggan ( Dr. Armand V. Feigenbaum ).

ü Mutu adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya

ü Mutu adalah kepatuhan terhadap standar yang telah ditetapkan

ü Mutu adalah tingkat kesempurnaan dari penampilan sesuatu yang sedang diamati.

ü Mutu adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, manusia/tenaga kerja, proses dan tugas, serta lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan (konsumen).

ü Mutu gambaran total sifat dari suatu produk atau jasa pelayanan yang berhubungan dengan kemampuannya untuk memberikan kebutuhan kepuasan (American Society for Quality Control).

ü Mutu: kesesuaian terhadap permintaan persyaratan (The conformance of requirements-Philip B. Crosby, 1979).

Banyak arti tentang mutu namun dua di antaranya sangat penting bagi manajer, meskipun tidak menyadarinya, yaitu :

Ø Mutu sebagai keistimewaan Produk

Di mata pelanggan, semakin baik keistimewaan produk semakin tinggi mutunya.

Keistimewaan produk yang memenuhi kebutuhan pelanggan :

Mutu yang lebih tinggi dari produk memungkinkan (memberikan manfaat) untuk :

Meningkatkan kepuasan pelanggan.

Membuat produk mudah laku dijual

Memenangkan persaingan

Meningkatkan pangsa pasar

Memperoleh pemasukan dari penjualan

Menjamin harga premium

Dampak yang teruatama adalah terhadap penjualan

Biasanya, mutu yang lebih tinggi membutuhkan biaya lebih banya.

Ø Mutu berarti bebas dari kekurangan (defisiensi), zero defect, defect-fre.

Di mata pelanggan semakin sedikit kekurangan, semakin baik mutunya.

Mutu yang bebas dari kekurangan :

Mutu yang lebih tinggi memungkinkan untuk :

- Mengurangi tingkat kesalahan

Mengurangi pekerjaan ulang dan pemborosan

Mengurangi kegagalan di lapangan, beban garansi

Mengurangi ketidakpuasan pelanggan